Buah Pikiran Para Perancang Masa Depan

Estetika Art Deco dalam Karya Schoemaker

In Charismatika Chinitra on June 16, 2012 at 8:07 am

Charismatika Chinitra

Estetika adalah seni meletakkan benda di tempat yang benar sehingga menghasilkan keindahan dan keterpaduan yang serasi. Estetika dalam asitektur adalah nilai yang menyenangkan mata dan pikiran yang berupa nilai bentuk dan ekspresi. Keindahan bentuk merupakan keindahan yang bersifat nyata, fisik, dan dapat diukur. Sementara keindahan ekspresi lebih cenderung bersifat abstrak, tergantung dari pesan estetis yang ingin disampaikan oleh desainernya. Keindahan bentuk memiliki dasar tertentu, yang disebut sebagai prinsip estetika seperti keterpaduan, keseimbangan, proporsi, dan skala. Keindahan ekspresi timbul dari pengalaman melihat dan mengamati dalam konteks arsitektur. Oleh karena itu hal yang dapat dilihat adalah bentuk.

Dalam arsitektur, media untuk mendapatkan keindahan ekspresi adalah bentuk arsitektur. Tiga syarat penting untuk mencapai keindahan ekspresi adalah karakter, gaya, dan warna. Estetika dipengaruhi oleh fungsi dan struktur. Dengan memenuhi persyaratan fungsi dan struktur, estetika dapat pula muncul. Keindahan muncul pula dengan pemenuhan prinsip-prinsip estetika seperti komposisi, keselarasan, keterpaduan, keseimbangan, proporsi, dan skala.

Prinsip-prinsip estetika yang kerap diterapkan dalam arsitektur adalah harmoni, kesatuan, simetri, dan  proporsi. Selain itu, dalam estetika dikenal juga teori Gestalt, yang merupakan seni membentuk ruang dengan padanan garis. Selain itu juga dikenal istilah Golden Section yang dianggap merupakan patokan ukuran yang serasi. Dalam arsitektur, estetika bukan hanya dapat dilihat dari segi bentuk, tetapi juga dapat dilihat dari segi bidang, garis, dan warna.

Melalui tulisan ini, saya akan mencoba menyampaikan estetika bentuk yang terdapat Hotel Preanger, dan kemudian membandingkannya dengan estetika Villa Isola. Keduanya merupakan bangunan yang menggunakan estetika langgam Art Deco, meski dibangun pada era yang berbeda. Hotel Preanger yang terletak di jalan pusat kota Bandung menerapkan langgam estetika Art Deco era 1920-an, dimana era tersebut merupakan awal dari langgam Art Deco. Sedangkan Villa Isola merupakan bangunan Art Deco tahun 1930-an yang tentunya sangat berbeda dari segi estetika Art Deco awal. Apabila Villa Isola sangat kuat unsur simetri nya, yang merupakan salah satu ciri Art Deco, Preanger sangat kaya dalam penggunaan bentuk-bentuk geometri.

Estetika dari langgam Art Deco, baik bentuk, simbol dan warnanya mengilhami masyarakat Barat dalam melepaskan diri dari pengaruh budaya klasik. Sedangkan material yang digunakan dalam ekspresi Art Deco antara lain merupakan bahan finishing dengan ekpresi mengkilap, seperti stainless steel, chrome, aluminium dan kaca.

Hal ini lah yang diterapkan dalam Hotel Preanger, yaitu Art Deco yang sangat kental dalam penggunan bentuk Geometris. Dibangun pada tahun 1929, Preanger merupakan karya yang dibangun pada puncak kejayaan Art Deco dimana pada saat itu langgam ini merupakan cerminan dari rich and superior style sebagai salah satu selebrasi dari berakhirnya Perang Dunia I. Dari segi estetika, Hotel Preanger lebih cenderung menggunakan elemen-elemen dekoratif pada bagian-bagian interior maupun eksteriornya. Elemen dekoratif ini merupakan serapan dari dekorasi suku Maya. Secara geometris, Hotel Preanger dianggap estetis karena merupakan gabungan dari bentuk-bentuk persegi panjang dengan komposisi Golden section yang serasi.

Hotel Preanger yang sangat dominan unsur geometris dekoratifnya sangat berbeda dengan Villa Isola yang dibangun pada tahun 1933. Bangunan ini menggunakan garis-garis lengkung horizontal sebagai  penerapan konsep estetika bentuk. Garis lengkung  yang digunakan pada bangunan ini yang bersifat romantik yang merupakan pengaruh dari langgam Art Deco yang dianggap sebagai cerminan modernitas pada jaman tersebut. Secara estetis, tampilan dekorasi Art Deco di periode ini menjadi relatif  lebih sederhana. Bentuk bangunannya menjadi aerodinamis, streamline, atau oceanlinier. Bentuk- bentuk yang diilhami oleh bentuk transportasi udara, darat, atau laut. Bentuk-bentuk dan garis-garis streamline pada Villa Isola sendiri merupakan terjemahan dari bentuk kapal, yang merupakan salah satu dari latar belakang kemajuan teknologi yang menjadi dasar munculnya langgam Art Deco ini. Bentuk streamline tidak hanya terlihat dari fasade bangunan saja, tetapi juga terintegrasi dalam interior dan ornament bangunan seperti jendela.

Villa Isola menerapkan tendensi horisontal dan vertikal yang ada pada arsitektur India yang banyak berpengaruh pada candi-candi di Jawa. Hal ini terlihat pada unsur simetris yang kuat yang akan terlihat jelas pada denah bangunan. Serupa dengan unsur simetris kosmik pada bangunan candi, estetika simetris Villa Isola ini diperkuat dengan adanya taman memanjang di depan gedung yang  mengarah ke pusat kota di arah selatan, dan gunung Tangkuban Perahu ke arah lainnya.

Sudut bangunan melengkung-lengkung membentuk seperempat lingkaran. Secara keseluruhan bangunan dan taman bagaikan air bergelombang yang timbul karena benda jatuh dari atasnya, sehingga gedung ini merupakan penyesuaian arsitektural antara bangunan terhadap lingkungan. Pengolahan taman dengan menggunakan bentuk melingkar yang berpusat pada bangunan yang juga memiliki bentuk melingkar, menjadikan bangunan menyatu dengan lahan di sekitarnya.

Dengan skala bangunan yang tepat dengan lokasinya yang terletak di atas bukit, Vila Isola merupakan bangunan yang menarik perhatian pengunjung yang dating dari bawah bukit. Bangunan ini pada awalnya di desain agar view yang terlihat dari bangunan ini adalah pemandangan kota Bandung.  Maka itu elemen lansekap, seperti komposisi jarak akan bangunan di sekitarnya dibuat untuk mempertegas dan untuk mendapatkan pemandangan maksimal. Sayangnya, kini lansekap bangunan ini tidak lagi dipertahankan. Padahal bangunan dan lansekap adalah sebuah kesatuan estetis yang saling mendukung satu sama lain. Karena keberadaan yang satu akan memperkuat makna lainnya.

Pintu gerbang masuk ke komplek villa ini terbuat dari batu yang dikombinasikan dengan besi membentuk bidang horisontal dan vertikal. Setelah melalui gapura dan jalan aspal yang cukup lebar, terdapat pintu masuk utama yang dilindungi dari panas dan hujan dengan portal datar dari beton bertulang. Mengikuti lengkungan-lengkungan pada dinding, denah portal juga melengkung berupa bagian dari lingkaran pada sisi kanannya. Ujung perpotongan kedua lengkungan disangga oleh kolom tunggal. Setelah melalui pintu utama terdapat vestibulae sebagaimana rumah-rumah di Eropa umumnya. Dari vestibula ke kiri dan ke kanan terdapat tangga yang melingkar mengikuti bentuk gedung secara keseluruhan.

Meskipun dirancang oleh arsitek yang sama, yaitu Schoemaker, Villa Isola dan Hotel Preanger memiliki perbedaan estetika bentuk yang cukup signifikan. Keduanya merupakan karya Art Deco kota Bandung. Namun Villa Isola menggunakan bentuk-bentuk streamline dan simetris yang lebih terlihat dibandingkan Hotel Preanger. Pada Villa Isola, Schoemaker banyak memadukan falsafah arsitektur tradisional dengan modern dalam bangunan ini. Secara konsisten, ia menerapkannya mulai dari kesatuan dengan lingkungan, orientasi kosmik utara selatan, bentuk dan pemanfaatan sinar matahari untuk mendapat efek bayangan yang memperindah bangunan. Saat Villa Isola mulai dibangun, estetika Art Deco yang semula hanya sebuah penerapan gari-garis dan bidang-bidang geometris dengan sentuhan estetika Golden Section yang diterapkan pada desain Hotel Preanger kemudian berkembang menjadi bentuk organik dan streamline. Streamline ini muncul seiring dengan berkembangnya teknologi yang menginspirasi Art Deco pada tahun 1930-an, sebelum akhirnya langgam ini mulai pudar pada awal Perang Dunia II.

***

Sumber:

Kamus Besar Bahasa Indonesia

Jurnal desain dan konstruksi, vol. 2, no. 2, Desember 2003

http://www.wikipedia.com/

http://www.megadiskon.com/content/news/read/308/grand-preanger-hotel-yang-kaya-sejarah.html/

http://dieny.wordpress.com/2007/06/11/villas-isola-monumen-dalam-arsitektur/

http://santipadma.wordpress.com/2009/08/25/dinamika-arsitektur-art-deco/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: