Buah Pikiran Para Perancang Masa Depan

Kerohanian Berbalut Sekulerisme

In Apriani Kurnia Sarashayu on June 9, 2012 at 9:37 am

Apriani Kurnia Sarashayu

Apa yang terlintas di pikiran ketika mendengar kata gereja? Tentunya sebuah bangunan yang memiliki halaman tersendiri, mempunyai  jemaat yang berbondong-bondong datang pada hari minggu/hari besar lain, terdapat menara tinggi berisi lonceng pemanggil  jemaat beribadah, mempunyai langit-langit tinggi yang monumental, memiliki ornamen-ornamen yang indah (khususnya pada gereja Katolik), dan sebagainya. Definisi gereja sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah  1 gedung (rumah) tempat berdoa dan melakukan upacara agama Kristen: di situ ada — yg besar; 2 badan (organisasi) umat Kristen yg sama kepercayaan, ajaran, dan tata cara ibadahnya ( — Katolik, — Protestan, dsb). Dari uraian tersebut dapat dikatakan bahwa gereja dipandang dari dua sudut yaitu dari segi fisik dan dari segi non-fisik. Dari segi fisik yaitu berupa bangunan yang menaungi dan dari segi non-fisik yaitu dari jemaat dan perkumpulan yang beribadah di dalamnya.

Arsitektur Gereja

Gereja adalah cerminan budaya sekitar. Di negara kita khususnya, muncul corak-corak gereja yang basisnya adalah komunitas. Hal ini disebabkan karena faktor kenyamanan beribadah. Hal yang paling mudah diamati adalah gereja daerah, contohnya komunitas Gereja Kristen Jawa dan Huria Kristen Batak Protestan. Belum lagi banyaknya aliran gereja dunia yang ikut masuk ke Indonesia, menambah beragamnya komunitas gereja di Indonesia.

Untuk memperkuat karakter komunitas ini, biasanya jemaat membuat sebuah bangunan gereja yang mencerminkan  visi dan misi yang komunitas mereka bawa. Contoh paling mudah adalah bangunan Gereja yang bercorak kedaerahan biasanya disesuaikan dengan karakter bangunan daerah. Contohnya di Jawa Tengah, banyak gereja yang menggunakan pendopo sebagai bentuk dasar dari bangunannya. Gereja di luar negeri juga kebanyakan menunjukkan identitas komunitasnya dalam wujud bangunan. Charles Warren Callister (1967), arsitek dari bangunan First Church of Christ Scientist, mengatakan “Architecture evolves from faith“. Disini ditekankan bahwa bangunan gereja adalah pencerminan dari bentuk kepercayaan jemaatnya. Jadi yang menentukan bangunan gereja seperti apa sebenarnya adalah jemaat itu sendiri, karena mereka adalah penggunanya.

Walaupun memiliki corak tersendiri yang berbeda-beda sesuai komunitasnya. Terdapat tipologi umum yang terdapat pada bangunan gereja (lihat gambar 1). Bangunan gereja biasanya tampak menjulang dari luar karena langit-langitnya yang cukup tinggi. Tipologi ini didapat dari tipikal bangunan gereja di eropa yang menggunakan skala untuk menciptakan kesan kecil pada diri manusia ketika menghadap pada Penciptanya. Dari segi interior, bangunan gereja umumnya memiliki hall besar tempat berkumpul, dan terfokus pada altar pada bagian depan. Altar ini biasanya mendapat perlakuan khusus karena dijadikan sebagai point of interest. Pada bagian altar dipertinggi posisinya dibandingkan bagian lain karena di sinilah pendeta dan para majelis biasanya duduk dan melayani jemaat. Penekanan lain bisa diberikan dengan ketinggian langit-langit yang lebih tinggi dibanding bagian lain atau dengan bukaan skylight yang memungkinkan banyak cahaya masuk ke daerah ini sehingga fokus jemaat dapat diarahkan ke sini.

Gambar 1. Tipologi Gereja pada umumnya (sumber: gereja KAT)

Pergeseran Kebudayaan = Transformasi Gereja

Karena penggerak dari gereja adalah jemaatnya, gereja dapat berubah dan bertransformasi sesuai dengan keinginan jemaatnya. Saat ini gereja tidak terlalu memusingkan masalah pencintraan melalui bentuk fisik bangunan, yang lebih diperhatikan adalah masalah non-fisik yaitu tentang perkembangan rohani jemaat dan kegiatan-kegiatan pembangunan rohani. Gereja lebih bersikap fleksibel dalam menentukan tempat untuk beribadah. Faktor-faktor yang mempengaruhi pergeseran budaya ini antara lain adalah kurangnya lahan kosong yang cukup besar dan strategis untuk membangun sebuah gereja sehingga jemaat memutuskan untuk menggunakan tempat yang dekat, praktis, dan sesuai dengan kebutuhan ibadah mereka seperti yang dikatakan Rudolf Schwarz (1967), “Church Architecture is not cosmic mythology-rather it is the representation of Christian life, a new embodiment of the spiritual.”

Inilah awal perkembangan adanya gereja-gereja yang menggunakan bangunan mixed-use sebagai tempat ibadahnya. Fenomena ini tidak hanya terjadi di satu kota di Indonesia, tetapi juga menyebar ke banyak daerah di negara kita. Bangunan gereja banyak bersatu dengan fungsi-fungsi komersil seperti  mall, bank, restoran, kampus, dsb. Faktor kepraktisan, ekonomi, dan maraknya isu pembentukan compact city  menjadi dorongan penggunaan mixed use building sebagai tempat ibadah. Di kota Bandung sendiri ada beberapa bangunan mixed-use yang dipergunakan sebagai tempat ibadah bagi jemaat gereja.

Mau ke Gereja atau ke Mall?

Bangunan megah 9 lantai itu tampak menawarkan banyak hiburan di pinggir Jalan Pasteur yang membuka kilometer awal kota Bandung. Bandung Trade Centre yang berdiri sejak September 2002 merupakan pusat hiburan yang hidup, lengkap, dan menjadi favorit masyarakat di wilayah itu (lihat gambar 2). Bangunan ini telah ditempati oleh 500 Toko dan 70 island/push cart dan mendeklarasikan diri sebagai ‘pesona fashion di Bandung’. Pengunjungnya cukup beragam dan banyak, terlebih ketika weekend tiba.

Gambar 2. Bandung Trade Centre (sumber:bursa online)

Tapi tahukah kita bahwa di sekian banyak pengunjung tersebut terdapat sebagian orang yang tujuan utamanya datang ke Mall ini adalah untuk beribadah? Bandung Trade Center memiliki sekitar 15 Gereja di hampir setiap lantainya. Pada papan petunjuk yang ada di bagian depan sebelum masuk ke lift, hanya terpampang sekitar 7 nama gereja (lihat gambar 3). Itupun implisit bagi orang awam karena yang dipampangkan adalah nama komunitasnya. Biasanya komunitas ini berdasarkan penginjilnya, contoh komunitas GISI (Gereja Injil Seutuh Internasional) merupakan bawaan dari penginjil Jimmy Oentoro.

Gambar 3. Papan petunjuk lokasi tiap lantai

Lokasi-Lokasi Gereja ini tersebar mulai dari lantai terbawah (semi-Basement Floor) terdapat 2 gereja yaitu Gereja Extravagant dan VMM (Vibrant Men’s Ministry). Di Lantai 2/P1 terdapat 3 Gereja yaitu CRC, Graha Mawar Sharon, dan Balarea Convention Centre yang sering dipergunakan untuk Kebaktian Kebangunan Rohani. Di lantai 3/P2 terdapat 3 gereja yaitu Bethani, BPC, dan Pondok Daun. Di lantai 4 terdapat 1 Gereja yaitu Griya Fajar Pengharapan. Di Lantai 5 terdapat GISI Centre (Gereja Injil Seutuh Internasional). Di Lantai teratas terdapat Blessing Room.

Biasanya gereja-gereja ini merupakan gereja kharismatik dan berupa gerakan pembaharuan. Komunitasnya terbangun dari para penginjilnya yang merupakan gembala/pendeta dari gereja tersebut. Gereja-gereja ini juga membuka kebaktian di luar hari minggu pada sore hari. Namun, jemaatnya memang tidak sebanyak jemaat gereja pada umumnya.

Pada mulanya pembangunan BTC tidak diperuntukan khusus untuk fungsi tertentu. Pada perkembangannya ternyata memang banyak komunitas gereja yang akhirnya membeli/menyewa tenant untuk beribadah jemaatnya disitu. Itulah sebab kenapa tidak semua gereja berada di papan petunjuk. Gereja yang masih mengontrak tidak disebutkan di papan penunjuk. Di dalam lift atau di luar lift terdapat papan pengumuman yang umumnya memuat warta dari beberapa gereja yang ada di BTC (lihat gambar 4).

Bentuk yang tetap dipertahankan seperti di gereja pada umunya adalah hall/aula besar tempat kebaktian berlangsung (lihat gambar 5). Bentuk ruangan ini mirip dengan ruangan seminar pada umumnya. Bagian altar dibuat seperti panggung dan terdapat podium dimana pendeta berkotbah. Langit-langitnya hanya sekitar 3,5 meter seperti pada ruangan biasa. Ruangan ini memiliki penerangan yang cukup dan menggunakan pendingin ruangan agar terasa nyaman meskipun banyak orang di dalamnya. Ruangan ibadah ini biasanya juga di-setting kedap suara sehingga tidak mengganggu aktivitas lain di dalam bangunan.

Gambar 4. Papan pengumuman
(atas: diluar lift, bawah: didalam lift)

Sebelum masuk ke ruangan biasanya kita hanya disambut dengan sebuah papan penunjuk yang berisi nama komunitas gereja tersebut dan papan pengumuman berisi warta, selebihnya mirip dengan convention centre yang pada umumnya digunakan sebagai ruang seminar. Hasil wawancara dengan jemaat, sebagian besar merasa nyaman dengan bentuk gereja seperti ini karena yang terpenting adalah hubungan jemaat di dalamnya dan ibadahnya, bukan bentuk fisiknya. Selain itu mereka merasa dipermudah karena pemilihan lokasi BTC yang strategis sekaligus bisa menikmati fasilitas di dalamnya (food court, parkir yang terjamin dan nyaman, retail, supermarket). Keamanan gereja juga lebih terjamin karena terdapat satuan pengaman yang siap sedia 24 jam untuk berpatroli dan mengawasi bangunan.

Gambar 5. Suasana hall kebaktian

Alasan lain yaitu masalah ekonomi dan perijinan. Banyak komunitas gereja yang belum mampu secara finansial untuk membeli tanah dan membangun sebuah gereja diatasnya serta mendapatkan ijin resmi dari pemerintah dan masyarakat sekitar untuk membangunnya. Biasanya sambil menunggu uang terkumpul dari jemaat dan menunggu ijin turun, mereka mengontrak sebuah tempat sebagai rumah ibadah terlebih dahulu. Kasus ini terjadi pada GBI yang teletak di Dago Plaza, Jl. Ir. H juanda. Gereja ini mengontrak lantai 7 bangunan Dago Plaza sebagai tempat penampungan sementara sebelum mereka memiliki bangunan tersendiri. Enam bulan yang lalu setelah gereja mereka di Jl. Suci siap dipakai, mereka pindah ke bangunan itu.

Tipikal ruangan yang dipakai sebagai gereja di Dago Plaza juga sama dengan ruangan gereja di BTC, seperti layaknya sebuah ruang seminar. Tertutup, berupa hall yang besar, berpendingin ruang, dan dilengkapi layar projector sebagai pemandu saat kebaktian berlangsung. Terdapat lift khusus untuk mencapai ruang ibadah ini sehingga tidak berdesakan dengan pengunjung retail dan fungsi-fungsi lain. Hal yang sama juga terjadi pada gereja yang menumpang di Bank Mandiri Jl. Siliwangi (lihat gambar 6). Sebelum mereka memperoleh tempat yang baru, jemaat beribadah di lantai 2 bangunan bank ini. Setelah bangunan gereja mereka jadi, barulah mereka pindah ke tempat yang baru.

Gambar 6. Bank Mandiri Siliwangi

Pada intinya adalah pergeseran citra gereja, yaitu tidak lagi mengacu pada sesuatu yang bersifat fisik, tetapi lebih mengacu ke non fisik, yaitu pembangunan  jemaat di dalamnya. Dalam bangunan gereja yang terpenting adalah bagaimana kebutuhan jemaat bisa terpenuhi sesuai dengan perkembangan jaman dan kondisi sekitar. Terlebih di saat sekarang, di mana semakin miskinnya lahan perkotaan, serta kebutuhan masyarakat akan waktu dan jarak yang lebih efisien karena mobilitas yang tinggi. Seperti tertulis di Alkitab, “ … dimana dua tiga orang berkumpul memuji namaKu, disitulah Aku hadir”. Tidak masalah kulitnya apa (bangunannya), yang terpenting adalah ibadah yang berlangsung didalamnya bisa berjalan baik dan mendukung perkembangan komunitas.

***

REFERENSI:

 Janer, Albert Christ & Foley, Mix Mary. 1967. Modern Church Architecture : A guide to the form and spirit of 20th century religious buildings. Italy:McGraw – Hill Book Company page 259

Janer, Albert Christ & Foley, Mix Mary. 1967. Modern Church Architecture : A guide to the form and spirit of 20th century religious buildings. Italy:McGraw – Hill Book Company page 67

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: