Buah Pikiran Para Perancang Masa Depan

Hotel Indonesia dan Gedung DPR/MPR RI: Pergolakan Politik Era 60-an di Jakarta

In Derrick Andika Juda on June 2, 2012 at 9:38 am

Derrick Andika Juda

Konteks Sejarah dan Politik Pada Periode 1960-an

Tahun 1960-an merupakan periode terpenting dalam sejarah bangsa Indonesia. Banyak peristiwa penting yang mempengaruhi perkembangan bangsa Indonesia terjadi pada periode ini. Dekade 1960-an dimulai dengan peristiwa pembebasan Irian Barat dari penjajahan Belanda pada tahun 1960-1962, kemudian berlanjut dengan konfrontasi Indonesia-Malaysia yang berujung pada keluarnya Indonesia dari PBB pada tahun 1962-1965. Pada masa yang sama, kemunculan Nefos (New Emerging Forces) yang diprakarsai oleh presiden Soekarno ikut menambah daftar peristiwa penting pada periode 1960-an. Semua peristiwa tersebut ditutup oleh peristiwa G30S pada tahun 1965 dan kejatuhan presiden Soekarno yang ditandai dengan Supersemar pada tahun 1966.

Semua peristiwa tersebut menandai dinamisnya kondisi bangsa Indonesia pada periode 1960-an. Pada masa demokrasi terpimpin ini, bangsa Indonesia mengalami masa kejayaan dan kejatuhan sekaligus. Indonesia mengalami kejayaan karena Indonesia merupakan negara yang diperhitungkan dalam percaturan politik dunia. Dengan menjadi pelopor gerakan non-blok, presiden Soekarno mencoba mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia dengan tidak memihak pada blok manapun. Namun, dalam perjalanannya, presiden Soekarno cenderung memihak ke Blok Timur. Nasakom yang merupakan buah pemikiran Soekarno semakin menguatkan keberpihakan Indonesia pada Blok Timur. Inilah yang menjadi awal kejatuhan Soekarno dan bangsa Indonesia karena banyak kritik dan perlawanan pada pemikiran tersebut. Kondisi ekonomi dan politik dalam negeri yang kurang terperhatikan karena tertutup hebatnya pergerakan politik luar negeri Soekarno juga menjadi faktor yang menyebabkan jatuhnya Indonesia.

Arsitektur di Indonesia juga mengalami perkembangan yang pesat pada periode 1960-an. Presiden Soekarno sendiri merupakan seseorang yang cinta akan seni dan arsitektur. Soekarno menggunakan seni dan arsitektur sebagai sebuah manifestasi fisik pergerakan politiknya. Banyaknya bangunan yang berteknologi mutakhir pada masa itu dibangun pada periode ini. Hal tersebut ingin menunjukkan bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar dan maju. Stadion Senayan, Gedung Pola, Masjid Istiqlal, Gedung Conefo merupakan beberapa contoh bangunan yang dibangun pada dekade 1960-an. Bangunan yang dibangun pada masa itu banyak terpengaruh oleh International Style yang berasal dari dunia barat yang sedang mendunia pada tahun 1960-an. Hotel Indonesia dan Gedung Conefo merupakan dua bangunan yang bisa dijadikan contoh bagaimana Soekarno menggunakan arsitektur sebagai alat untuk menyatakan sikap dan pergerakan politiknya.

Hotel Indonesia, Hotel Termegah di Asia Tenggara

Hotel Indonesia adalah hotel berbintang lima pertama di Asia Tenggara yang menjadi saksi bisu perkembangan bangsa Indonesia dan gerakan politik presiden Soekarno. Hotel yang terletak di Jalan MH. Thamrin No. 1, Jakarta ini, tepat di depan bundaran yang bermonumenkan patung “Selamat Datang”, telah menjadi saksi sejarah sejak diresmikan oleh presiden Soekarno pada tanggal 5 agustus 1962. Hotel Indonesia digunakan pertama kali untuk keperluan media informasi Asian Games ke-4 tahun 1962. Hotel ini ditunjuk sebagai wadah media informasi bagi para seniman, tamu negara, pengamat, dan atlet yang bertanding di Asian Games waktu itu.

Bangunan Hotel Indonesia dirancang oleh dua arsitek asal Amerika Serikat, yaitu Abel Sorensen dan istrinya, Wendy Sorensen. Proses konstruksinya dikerjakan oleh Taisei Corporation dan dimulai pada tahun 1959 dengan memakai dana ganti rugi yang diberikan oleh Jepang. Bangunan Hotel Indonesia mempunyai luas 25.082 meter persegi dan merupakan hotel high-rise bertaraf internasional pertama di Indonesia. Bentuk bangunan dibuat mengikuti huruf T agar tamu hotel dapat menyaksikan pemandangan luas ibukota dan mendapat cahaya matahari dari kamar mana pun.

Kata “International Style” mendominasi kosa kata arsitektur pada periode 1950-1960an. Paham Modernisme yang termasuk di dalam International Style banyak mengilhami pembangunan bangunan-bangunan di Indonesia pada masa itu. Kapitalisasi di bidang ekonomi dan pembangunan fisik bangunan yang menerapkan International Style yang sedang marak di Barat mendapat tempat yang luas. Menurut Agus Schari (2007), fenomena ini bersifat ‘dualistis’ karena di satu sisi Soekarno mengumandangkan dan menerapkan konsep politik ‘Anti-Barat’ sebagai sebuah dasar gerakan politik ‘Nation Building’. Selain Hotel Indonesia (1959), Stadion Olahraga Senayan, Gedung Pola (1963), dan Masjid Istiqlal merupakan beberapa contoh bangunan yang menganut International Style.

Dana yang digunakan untuk pembangunan Hotel Indonesia juga mencerminkan gerakan politik yang dilakukan oleh Soekarno. Pemerintahan Presiden Soekarno pada masa itu cenderung berporos ke Blok Timur (Komunis RRC dan Uni Soviet) dan menabukan investasi asing. Bahkan, Soekarno berani bersuara dengan lantang bahwa ia tidak membutuhkan bantuan Amerika Serikat dan negara Barat lainnya. Untuk pembangunan Hotel Indonesia dan bangunan lainnya, ia hanya mengandalkan dana ganti rugi/pampasan perang Jepang. Namun, disini saya melihat sebuah inkonsistensi pada sikap yang ditunjukkan oleh Presiden Soekarno. Ia berkata tidak membutuhkan bantuan negara barat tetapi arsitek yang membangun Hotel Indonesia berasal dari Amerika Serikat.

Hotel Indonesia sebelum pemugaran. Arsitek : Abel & Wendy Sorensen (1959). (Sumber : http://www.jakarta.go.id)

Hotel Indonesia setelah pemugaran oleh Kempinski (2007). (Sumber : http://www.indonesiaphoto.com)

Gedung DPR/MPR RI, Bukti Keunggulan Teknisi Indonesia

Bangunan dengan atap berbentuk kepakan sayap burung garuda ini menandai ekskalasi gerakan politik presiden Soekarno. Gedung DPR/MPR RI ada dalam Kompleks DPR/MPR RI seluas 41,2 ha yang terletak di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Pusat. Pembangunannya dimulai pada 8 Maret 1965. Arsitek gedung ini adalah Ir. Soejoedi Wiroatmojo Dipl. Ing. dan Ir. Sutami. Pada awalnya, Gedung DPR/MPR RI bukan gedung untuk legislator, melainkan untuk menyelenggarakan Conference of the New Emerging Forces (Conefo) pada tahun 1966 di Jakarta.

Conefo merupakan konferensi internasional dari sejumlah negara peserta Konferensi Asia Afrika pada tahun 1955 yang mendukung gagasan untuk membentuk tatanan dunia baru. Namun, Conefo belum sempat dilakukan karena pembangunan Gedung Conefo, yang semula ditetapkan selesai pada 17 Agustus 1966, terhambat akibat peristiwa G30S. Gedung Conefo dan Komplek Political Venues yang kemudian berubah menjasi Gedung dan Komplek DPR/MPR RI selesai dibangun pada 1 Februari 1983.

Rancangan Asli Gedung Conefo. (Sumber : http://dpr-ri.org)

Semangat Pembukaan Undang Undang Dasar 1945, yang mengatakan bahwa bangsa Indonesia ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial, direalisasikan sepuluh tahun kemudian ketika bangsa Indonesia memprakarsai Konferensi Asia Afrika di Bandung pada tanggal 18–24 April 1955. Sebanyak 29 negara dari dua benua, yang mewakili lebih dari separuh jumlah umat manusia di dunia, untuk pertama kalinya dalam sejarah duduk bersama dan mempersatukan tekad untuk berjuang menghapuskan segala macam bentuk penjajahan.

Upaya bangsa Indonesia, yang telah bebas dari penjajahan selama 350 tahun, tetap berusaha memperjuangkan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial, diterjemahkan dengan melahirkan gagasan untuk menyelenggarakan Conference of the New Emerging Forces (Conefo) tahun 1966 di Jakarta. Conefo sendiri adalah gagasan presiden Soekarno untuk membentuk suatu kekuatan blok baru yang beranggotakan negara-negara berkembang untuk menyaingi kekuatan Blok Timur dan Blok Barat. Tujuan utama presiden Soekarno menyelenggarakan Conefo adalah untuk membentuk sebuah organisasi dunia tandingan PBB. Menurut Soekarno, PBB yang dikuasai oleh negara-negara imperialis dan kapitalis perlu dirombak dan markas besarnya dipindahkan dari New York, AS. Semangat revolusioner inilah yang mendasari berdirinya Gedung Conefo yang sekarang menjadi Gedung DPR/MPR RI.

Untuk melaksanakan Conefo perlu dirancang dan dibangun sebuah gedung konferensi. Presiden Soekarno kemudian menyampaikan kriteria perancangan, bahwa kompleks bangunan yang akan dibangun harus memiliki ciri khas kepribadian Indonesia. Selain itu, bangunan itu juga harus sanggup menjawab tantangan zaman beberapa tahun ke depan. Gedung Conefo juga harus menampilkan kemegahan, agar bisa ditampilkan sebagai teladan dan keunggulan karya rancang bangun teknisi Indonesia. Soekarno berkeinginan bangunan ini kelak lebih megah daripada gedung PBB di New York, AS. Letak lahan proyek diupayakan tidak terlalu jauh dengan Komplek Sport Venues (Gelora Senayan) yang sudah dibangun dan telah digunakan untuk Ganefo (Games Of the New Emerging Forces) pada November 1963. Komplek Political Venues akhirnya diputuskan dibangun di jalan Jenderal Gatot Subroto, Senayan yang hanya dipisahkan oleh jalan dengan Komplek Sport Venues.

Jauh sebelum adanya keputusan pembangunan Gedung Conefo, sekitar bulan November tahun 1964 diadakan sayembara terbatas prarancangan Gedung Conefo oleh pemerintah Indonesia. Penyelenggaraan sayembara ini merupakan kesempatan pertama bagi konsultan teknik serta arsitek Indonesia, untuk merancang gedung konferensi yang bisa manandingi Gedung PBB di New York, AS. Sayembara ini diikuti tiga konsultan perencanaan dan peserta perseorangan. Menurut Anglingsari Saptono dan G. Sujayanto (1991), presiden menghimbau supaya pengikutnya bukan dari kelompok yang sudah dikenal sebelumnya, semisal pakar teknik ternama Roosseno atau arsitek kondang Friedrich Silaban, tetapi berasal dari generasi baru. Himbauan itu membuat peserta dari unsur peroranganlah yang terpilih sebagai pemenang, yaitu Ir. Soejoedi Wirjoatmodjo, Dipl. Ing. Keikutsertaan Soejoedi sebenarnya atas dorongan Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga (PUT) Soeprajogi yang telah mengenalnya sebagai arsitek berprestasi. Soejoedi senantiasa bekerja sama dengan Ir. Sutami, seorang teknisi muda yang handal dalam menghitung konstruksi bangunan.

Kemenangan rancangan Soejoedi sangat dibantu dengan pembuatan maket yang melengkapi gambar rancangannya. Presiden Soekarno sendiri menilai rancangan kelompok Soejoedi memiliki beberapa keunggulan, yaitu bentuknya yang inovatif dan untuk kondisi saat itu rancangan bangunan tersebut bisa dibanggakan di forum internasional.

Gedung DPR RI/MPR RI sekarang. (Sumber : internet)

Arsitektur, Simpul Pada Benang Merah Pergolakan Politik Era 60-an

Dari Hotel Indonesia dan Gedung DPR RI/MPR RI dapat ditarik sebuah benang merah perjalanan pergerakan politik presiden Soekarno pada masa Demokrasi Terpimpin. Melalui bangunan Hotel Indonesia, yang termasuk proyek mercusuar Soekarno, tercermin semangat Soekarno yang ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia adalah negara yang perkembangannya pesat dan tidak bisa dipandang sebelah mata. Pergerakan politik presiden Soekarno kemudian mengalami ekskalasi dari yang hanya ingin membuktikan Indonesia adalah negara berkembang yang pesat menjadi Indonesia adalah negara yang berpengaruh di dunia selain Amerika Serikat dan Uni Soviet. Hal tersebut tercermin pada bangunan Gedung DPR/MPR RI (Conefo) yang dibangun atas prakarsa presiden Soekarno dalam rangka Conference of the New Emerging Forces (Conefo). Dalam Conefo, Indonesia adalah pelopor gerakan kelompok negara-negara berkembang ini dan ingin membuktikan bahwa persatuan negara-negara berkembang mampu menandingi kekuatan Blok Barat dan Blok Timur.

***

DAFTAR PUSTAKA

Sachari, Agus. 2007. Budaya Visual Indonesia. Penerbit Erlangga : Jakarta.

Soyomukti, Nurani. 2008. Soekarno dan Nasakom. Garasi : Yogyakarta.

Amalia, Ezka. 2010. Pengaruh Penolakan Amerika Serikat Atas Permintaan Bantuan RI Masa Lyndon B. Johnson Terhadap Politik Mercusuar RI. Tugas akhir mata kuliah Politik Luar Negri dan Diplomasi RI, Jurusan Hubungan Internasional, FISIP UGM, Yogyakarta.

Yuliandini, Tantri. 2005. Grand Indonesia offers new shopping experience. http://www.thejakartapost.com/news/2005/10/28/grand-indonesia-offers-new-shopping-experience.html, The Jakarta Post, Jakarta. Diakses pada tanggal 23/11/2010 jam 20.07

Yuliandini, Tantri. 2010. Hotel Indonesia, 40 years on. http://indonesiaphoto.com/facts/life/item/204-hotel-indonesia-40-years-on Diakses pada tanggal 23/11/2010 jam 20.10

Budihardjo, Eko. 1 Juni 2001. Bung Karno, Arsitek-seniman. Kompas, Jakarta. http://gentasuararevolusi.com/index.php?option=com_content&view=article&id=72:nasionalis-komplit&catid=36:artikel Diakses pada tanggal 23/11/2010 jam 20.13

Hidayati, Nurul, 2007. Sejarah Gedung DPR/MPR, Political Venues untuk Conefo.   http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/09/tgl/05/time/080859/idnews/825722/idkanal/10 Diakses pada tanggal 23/11/2010 jam 20.15

Saptono , Anglingsari dan G. Sujayanto. Kubah Gedung Parlemen “Tercipta” dari Belahan Kuali. Intisari No. 339 Oktober 1991. http://forumbebas.com/printthread.php?tid=45997 Diakses pada tanggal 23/11/2010 jam 20.17

Gedung DPR/MPR Semula untuk Conefo. 2007. http://www.infoanda.com/linksfollow.php?lh=WVYAVl8KBQIP Diakses pada tanggal 23/11/2010 jam 20.21

Bung Karno Kutuk PBB !!. 2009. http://maribelajar.phpnet.us/?p=54 Diakses pada tanggal 23/11/2010 jam 20.24

Raharja, Gede Mugi. 2004. Gedung MPR/DPR-RI Konsep Rancangan yang Unggul dan Inovatif. http://www.balipost.co.id/BaliPostcetak/2004/10/10/ars1.html Diakses pada tanggal 23/11/2010 jam 20.28

Silaban, Charly. 1981. Mengenang Arsitek “Telinga Gajah”. Majalah Tempo, Edisi. 18/XI/04 – 10 Juli 1981. http://www.silaban.net/1981/07/04/mengenang-arsitek-telinga-gajah/ Diakses pada tanggal 23/11/2010 jam 20.35

http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/s/soeharto/mti/24/depthnews_02.shtml Diakses pada tanggal 23/11/2010 jam 20.39

http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/s/soekarno/mti/mti-24-01.shtml Diakses pada tanggal 23/11/2010 jam 20.46

http://dpr-ri.org/v2/index.php?option=com_content&view=article&id=22&Itemid=27 Diakses pada tanggal 23/11/2010 jam 20.50

http://www.jakarta.go.id/jakv1/encyclopedia/detail/997 Diakses pada tanggal 09/12/2010 jam 10.39

http://id.wikipedia.org/wiki/Gedung_DPR/MPR Diakses pada tanggal 23/11/2010 jam 20.58

http://id.wikipedia.org/wiki/CONEFO Diakses pada tanggal 23/11/2010 jam 21.03

http://www.cetro.or.id/lsm/dpr.php?module=artikel&jns=6 Diakses pada tanggal 23/11/2010 jam 21.16

http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Indonesia_(1959-1968)  Diakses pada tanggal 01/12/2010 jam 09.20


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: