Buah Pikiran Para Perancang Masa Depan

Sense of Place: Gereja GII Dago dan Gereja GKI Maulana Yusuf

In Julius F. Siregar on May 26, 2012 at 1:59 pm

Julius F. Siregar

Sense of place bisa diartikan sebagai segala sesuatu yang dirasakan dapat merubah citra suatu tempat. Ada tempat yang citranya mudah untuk diketahui dan ada juga yang tidak. Seringkali kita merasakan suasana di sebuah tempat kemudian menyimpulkan pendapat kita tentang tempat tersebut sama seperti pendapat yang dikatakan orang lain. Padahal belum tentu ada penanda atau tulisan di lokasi tersebut yang menyatakan bahwa tempat itu mempunyai suasana sebagaimana yang bisa dirasakan. Sense of place sendiri sering dikaitkan dengan pembangunan fisik. Hal ini juga berlaku pada bangunan. Dari luar bangunan, seseorang bisa membayangkan bagaimana rasanya ada dalam bangunan itu. Namun ada juga yang ternyata salah dalam memperkirakan suasana dalam bangunan karena memang di dalam bangunan itu sendiri terciptakan suasana yang cukup unik.

Bangunan ibadah merupakan salah satu contoh bangunan atau tempat yang biasanya mempunyai sense of place yang bisa dirasakan pengunjungnya. Dalam beribadah seseorang akan merasakan keagungan Tuhan dari setiap tata cara ibadahnya dan dari suasana yang bisa dirasakannya saat beribadah di tempat tersebut. Setiap orang biasanya mempunyai persepsi sendiri terhadap suasana dalam rumah ibadah tertentu. Tapi pada dasarnya ada keadaan yang bisa membuat beberapa orang merasakan hal yang sama.

Gereja yang dikenal sebagai tempat peribadatan umat Kristiani mempunyai suasana dalam ruang ibadahnya yang oleh beberapa orang diartikan dalam persepsi yang sama dan oleh beberapa orang lain diartikan dalam persepsi yang berbeda seperti hal yang disebutkan di atas.

Ada beberapa hal yang mempengaruhi sense of place ruang ibadah gereja. Dalam buku ‘Modern Church Architecture’ oleh Albert Christ-Janer dan Mary ix Foley disebutkan bahwa penciptaan suasana dalam ruang ibadah akan sangat berhasil dengan menghasilkan sebuah desain yang mengacu pada ‘Liturgis’ atau tata ibadah gereja itu sendiri. Katolik misalnya, mempunyai tata ibadah dimana umatnya melakukan gerakan berlutut. Pada saat berlutut, garis horizon manusia akan menurun. Hal ini menyebabkan skala bangunan akan semakin lebih besar dari semestinya karena solah-olah semakin tinggi. Beda halnya dengan Gereja Protestan yang dalam ibadahnya lebih banyak melakukan gerakan berdiri. Dengan berdiri maka langit-langit bangunan seolah-olah lebih dekat dari semetinya.

Buku lain ‘Religious Building’, architectural record book, juga menyebutkan hal yang sama. Disana dituliskan bahwa Interior design focus on liturgy. Hal ini berarti memang seharusnya tata ibadah atau liturgi sudah seharusnya dimasukkan sebagai hal yang menciptakan suasana dalam bangunan ibadah karena orang datang ke gereja pada umumnya untuk melakukan ibadah dan mengikuti tata ibadah yang sudah ada dalam gereja tersebut.

Dua gereja yang akan dibahas penciptaan sense of place-nya adalah Gereja Injili Indonesia (GII) di jalan Dago, dan Gereja Kristen Indonesia (GKI) di jalan Maulana Yusuf. Dua gereja ini mempunyai skala ruang ibadah yang cukup berbeda sehingga orang yang datang juga biasanya meraskan sense of place  yang berbeda.

GII Dago

Setiap gereja GII mempunyai tata ibadah yang sama sehingga mempunyai impresi yang hampir sama juga baik dalam ruangan ibadah maupun dalam tampak bangunannya. GII Dago mempunyai keunikan sendiri di dalam bangunannya. Jika di GII lainnya biasanya kursi jemaat dijajarkan memanjang kebelakang, di GII ini kursi-kursinya disusun sedikit mengarah ke setengah lingkaran. Namun hal yang paling unik dalam gereja ini adalah bagian pintu masuk utamanya. Jika melihat bangunan dari luar orang-orang cukup yakin ini adalah gereja walaupun tidak adanya lambang salib seperti gereja pada umumnya tapi dari adanya lonceng dan bentuk gereja yang memang menyerupai gereja pada umumnya. Dalam buku ‘Religious Building’ juga menyebutkan gereja bisa dilihat dari bentuknya. Namun saat melewati pintu utama gereja banyak sekali orang jadi ragu bangunan ini adalah benar-benar gereja.

Beberapa orang yang ditanyai tentang pendapatnya saat kali pertama masuk ke gereja ini menyangka bahwa ini adalah sebuah mall (responden yang ditanya adalah mahasiswa yang sedang kuliah di Bandung dan kebanyakan dari Sumatera). Banyak gereja di Sumatera yang diadakan di mall dengan menyewa ruangan-ruangan yang dibutuhkan. Dengan melihat hal tersebut maka keluarlah pendapat orang yang menyatakan hal di atas.

Area Pintu Masuk Gereja

Salah satu faktor yang paling membuat orang menyatakan gereja ini mirip mall adalah karena adanya dua eskalator seperti di mall besar yang dipakai sebagai jalan utama naik turun yang langsung bisa dilihat dari pintu masuk gereja. Eskalator ini juga berlanjut sampai ke lantai berikutnya menuju ruang peribadatan. Adanya dua eskalator di lantai bawah dan dilanjutkan satu eskalator di lantai berikutnya memang lebih menunjukkan suasana seperti di mall.

Jika dilihat sekilas (terutama dari bagian pintu masuk) memang gereja ini lebih terlihat seperti mall. Tetapi dalam pembagian ruang-ruangnnya, gereja ini mengorganisasikannya dengan cukup baik. Adanya pembagian ruang privat yaitu ruang ibadah, ruang kerja pendeta, ruang latihan paduan suara, dan ruang rapat para pengurus ditempatkan lebih di dalam dan lebih tertutup. Kemudian adanya pembagian ruang terbuka untuk publik yang lebih dekat dengan pintu masuk seperti perpustakaan, ruang informasi, ruang penjualan buku-buku rohani, dan ruang penyerahan sumbangan-sumbangan.

Ruang Ibadah Utama Gereja

Pada bagian ruang ibadah sendiri terdapat skala yang cukup nyaman untuk beribadah. Ruang ibadahnya mempunyai langit-langit yang cukup tinggi. Baik dari mezanin yang tingginya hampir satu lantai, maupun dari lantai utama ruang ibadah sendiri. Saat masuk ruang ibadah yang ‘besar’ seseorang akan langsung melihat salib yang besar pula di belakang altar. Hal ini menciptakan suasana yang bisa bisa membuat orang merasakan dirinya yang yang cukup kecil dan Tuhan (terlebih dengan bentuk salib besar) jauh lebih agung dari manusia.

Selain dari tempat duduk jemaat, dari daerah altar (termasuk daerah tempat duduk paduan suara di belakang altar) juga demikian. Para pelayan gereja seperti pendeta, singer, dan paduan suara juga bisa merasakan ‘kebesaran itu’. “Dari derah altar kelihatan jelas semua. Ketingiannya pas, bisa melihat lantai satu dan lantai dua (mezanin) dan bisa melihat skala besar juga.”, kata Andrew salah seorang anggota paduan suara yang biasa duduk di daerah altar. Hanya saja kekurangan dari gereja ini adalah sedikitnya bukaan yang memungkinkan cahaya matahari masuk. Sehingga saat di siang hari pun perlu menggunakan cahaya lampu penuh. Penggunaan lampu ini akan menghasilkan ruangan yang terlalu terang sehingga dalam beribadah tidak terlalu khusuk. Namun jika lampu dikurangi, maka ruangannya terlalu gelap (kecuali daerah altar dengan atap kaca).

Lain halnya jika ibadah yang di ikuti di sore hari. Ada bukaan dari kaca di atas altar yang jika sore hari arah matahari menyinari bukaan itu dan warna matahari sore seringkali membuat suasana menjadi seperti remang-remang. Banyak orang yang suka beribadah dengan keadaan cahaya remang. Tidak terlalu terang dan tidak terlalu gelap. Agus Tampubolon yang pernah beribadah di dua tempat ini (GII Dago dan GKI MY) adalah salah satu yang berpendapat demikian. “Kalau remang akan lebih khusuk”, kata Agus.

GKI Maulana Yusuf

Gereja GKI MY mempunyai skala ruang yang berbeda dengan gereja sebelumnya. Hal ini cukup berpengaruh terhadap suasana dalam ibadah di dalamnya. Skala yang lebih pendek di dapati terutama di dalam bangunan di ruang ibadahnya. Jika dilihat dari luar bangunan sama seperti gereja di atas, GKI MY ini juga bisa langsung diketahui merupakan bangunan dengan tipologi gereja dari bentuknya. Ditambah lagi pada tampak gereja ini terdapat lambang salib.

Penempatan ruang pada gereja ini juga mirip dengan dengan gereja sebelumnya. Yaitu menyatukan ruang privat sperti ruang kerja pendeta, ruang rapat, ruang alat pada daerah yang lebih dalam dan menyatukan ruang publik seperti perpustakaan, ruang diskusi yang bisa digunakaan jemaat di daerah yang lebih luar yang mudah diakses oleh jemaat.

Pada saat masuk ke ruang ibadah, jemaat tidak bisa langung mendapatkan impresi yang menyatakan perbedaan skala manusia dan pencipta. Hal ini dikarenakan jalur masuknya ada dua. Satu langsung dari tengah menuju ruangan, satu lagi harus sedikit berputar untuk masuk ke ruangannya. Dan dari kedua jalur tersebut mata terhalagi oleh mezanin (lantai dua) ruang ibadah yang tingginya hanya sekitar 3 meter (hanya setinggi langit-langit rumah biasa). Saat orang telah duduk di kursi barulah kelihatan suasana yang lebih agung.

Arah Pandangan Dari Lantai Satu di Bawah Mezanin

Sense yang bisa dirasakan jemat dalam ruang ibadah juga berbeda-beda tergantung posisi duduk.”, begitu penjelasan dari Agus Tampubolon salah seorang pemuda pengurus gereja saat ditanya mengenai kenyamanan dan suasana yang bisa dirasakan saat mengikuti ibadah. Tidak seperti gereja GII, gereja ini mempunyai layout tampat duduk yang benar-benar setengah lingkaran terhadap altar. ”Jika duduk di tengah di lantai satu akan bisa melihat pendeta dengan lebih jelas dan melihat keseluruhan altar dengan ada salib sibelakangnya, namun tidak dapat merasakan skala gereja yang besar karena tepat di atasnya terdapat langit-langit yang merupakan lantai mezanin”, tambahnya.

Pemusik dan paduan suara duduk di sebelah kanan altar. Posisi di sebelah kanan dan kiri altar di lantai satu ini memungkinkan jemaat untuk melihat lebih akan skala gereja lebih besar dengan langit-langit di atas mezanin yang lebih tinggi (bentuk plafon mengikuti kuda-kuda). Namun tidak nyaman dalam mengikuti ibadah karena melihat pengkotbah atau pendeta hanya dari samping.

Pandangan Dari Lantai 2 Bagian Tengah

Beberapa orang lebih senang duduk di lantai dua untuk bisa merasakan skala langit-langit yang lebih tinggi. “Yang paling enak adalah di lantai dua bangian tengah. Dapat dengan jelas melihat ke arah pengkotbah dengan jelas.” kata Chaterine salah seorang pemudi yang biasa bergereja di GKI MY. Di lantai dua bagian tengah berada tepat di depat altar. Plafonnya tinggi karena mengikuti bentuk kuda-kuda. Selain itu bisa melihat ke sekelilingnya di lantai dua. “Tetapi walaupun langit-langit yang lebih tinggi, tetap masih kurang enak merasakan skala yang lebih untuk mendapatkan sense keagungan Tuhan karena bentuk ruang ibadahnya lengkung.”, sambung Chaterine. Selain itu di daerah tengah lantai dua ini penerangannya baik siang maupun malam lebih gelap sehingga kenyamanan pun menjadi kurang. Untuk lantai dua bagian kanan dan kiri altar tetap sama seperti dibawahnya, tidak bisa melihat keseluruhan pengkotbah dan layar yang ditampilkan dengan jelas.

Dalam rumah ibadah juga diperlukan adanya interaksi antara jemaat yang akan beribadah, minimal sesaat sebelum mulai ibadah dan biasanya ditambah setelah ibadah selesai. Dilihat dari penggunaan furniture tampat duduk, GKI MY lebih menunjukkan suasana untuk saling berinteraksi daripada GII Dago. GKI MY menggunakan kursi panjang yang tanpa ada sekat sepanjang 5-8 orang duduk. Sedangkan GII dago menggunakan kursi dengan kapasitas satu orang satu kursi dan tetap sisusun memanjang. Tanpa adanya sekat antar kursi, di GKI MY lebih sering terjadi interaksi antar jemaat walau belum saling kenal, sedangkan di GII Dago interaksi yang terjadi tidak sesering itu.

Untuk pencahayaan pada gereja-gereja ini, GKI MY masih lebih menggunakan cahaya alami pada siang hari dibanding GII Dago. “Walaupun sama-sama terlalu terang untuk siang hari, setidaknya di GKI MY lebih bisa merasakan alam saat beribadah dengan adanya cahaya matahari alami,” kata Agus. Namun untuk kebaktian di sore hari, di GII Dago tercipta suasana remang dari cahaya matahari sore yang menciptakan suasanya lebih khusuk, dibandingkan di GKI MY yang arah bukaannya tidak tepat untuk matahari sore sehingga keadaan dalam gereja lebih gelap.

Kedua gereja ini mempunyai masing-masing ciri khas yang diminati jemaat dari suasananya yang bisa mempengaruhi suasana orang dalam beribadah juga. Dan sense yang bisa dirasakan jemaat saat pertama kali datang juga berbeda dengan skalanya masing-masing.

***

Daftar Pustaka

Schulz, Christian Norberg, Architecture: Meaning and Place, New York: Rizzoli International Publication, 1986.

Janer, Albert Christ and Mary Mix Foley,  Modern Chruch Architecture, New York: McGraw-Hill Book Company

Robinson, Jeremy,  Religious Building, USA: McGraw-Hill Book Company, 1979.

http://www.wikipedia.org

http://patomi.wordpress.com/

http://zulexperience13.multiply.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: