Buah Pikiran Para Perancang Masa Depan

Kartika Sari Commercial Building

In Ahmad Zuhdi 'Allam on May 5, 2012 at 10:28 am

Ahmad Zuhdi ‘Allam

Bandung adalah salah satu kota Indonesia yang mengalami perkembangan pesat dalam dasawarsa terakhir. Sejak dibukanya tol Cipularang yang menghubungkan Jakarta dan Bandung kegiatan ekonomi di Bandung meningkat tajam. Produk lokal Bandung kini telah berjamuran di pasar nasional Indonesia. Jumlah penduduk Bandung pun meningkat baik karena natalitas maupun urbanisasi. Bandung sedang berubah menjadi kota metropolitan yang menggiurkan bagi para investor maupun para pencari kerja.

Meningkatnya popularitas Bandung memberi dampak positif bagi perusahaan-perusahaan yang berbasis di Bandung, terutama industri kreatif yang di dalamnya ada industri kuliner.

Salah satu perusahaan terkenal dalam industri kuliner di Bandung adalah Kartika Sari. Bermula dari toko kecil di Jalan Kebon Kawung, Kartika Sari berevolusi menjadi industri makanan dengan reputasi internasional. Nama dan produknya sendiri telah menjadi ciri khas yang tak terpisahkan dari Kota Bandung.

Untuk mengakomodasi peningkatan volume perdagangan ini, pemilik perusahaan membuka cabang baru di area yang lebih ‘menjual’ daripada Jalan Kebon Kawung: Jalan Ir. H. Juanda. Di cabang baru ini pemilik tidak hanya menjual produk Kartika Sari, tapi juga menyewakan ruang untuk ritel. Cabang ini punya nama ‘Kartika Sari Commercial Building’.

Proses pengambilan keputusan desain

Menurut pengakuan Konsultan Pemasaran dan Promosi Kartika Sari, Arsitek bukanlah tokoh utama dalam proses pengambilan keputusan desain. Menurutnya, orang yang paling menentukan adalah pemilik Kartika Sari (pastinya) dan dia sendiri – Konsultan Pemasaran dan Promosi. Meski perannya kecil, tidak berarti peran Arsitek tersebut remeh. Perannya adalah mengombinasikan ide-ide dari banyak orang agar bangunan ini bisa tetap indah, fungsinya bisa berjalan dengan maksimal, dan bisa berdiri dengan sempurna.

Fungsi dan estetika ruang interior

Terlihat dengan jelas bahwa pendekatan yang digunakan oleh para perancang (bukan hanya arsitek) adalah pendekatan yang mengedepankan kebutuhan manusia. Kebutuhan manusia yang memiliki modal maupun manusia yang ingin menikmati bangunan ini dan apa yang ada di dalamnya.

Kebutuhan manusia yang memiliki modal tercermin dalam desain yang sangat kompak dimana setiap ruang kosong dimanfaatkan menjadi ruang komersial-pemberi-keuntungan. Pemilik sadar benar bahwa tempat ini hanya akan setengah hidup jika hanya mengandalkan makanan-makanan buatan Kartika Sari; maka ia menghadirkan fungsi lain di sana. Di lantai dua, toko-toko ritel penjual asesoris dan pakaian berjejer. Tempat ini bisa menjadi tempat alternatif bagi para perusahaan baru yang belum bisa menyewa tempat di mall atau punya tempat sendiri. Pemilik juga tahu bahwa keluarga adalah sasaran empuk bagi usaha mereka; maka mereka menyediakan tempat bermain anak yang luasnya tidak jauh berbeda dengan ruang makan. Pemilik perusahaan juga tahu bahwa rapat di luar kantor sudah menjadi tren di kalangan pejabat dan pengusaha di Bandung; maka mereka membuat beberapa ruang makan privat yang bisa berfungsi sebagai ruang rapat.

Alih-alih melihat buku ‘Time-saver Standard’ atau ‘Neufert’s Standard’ untuk membuat sebuah toko, sang arsitek ‘bekerja sama’ dengan sang pemilik untuk menentukan fungsi apa saja yang ada dalam toko tersebut. Sehingga yang lebih menentukan fungsi pada bangunan adalah kecerdasan sang pemilik dalam melihat pasar. Jika kita lihat sekarang, bisa jadi Kartika Sari Commercial Building adalah sebuah mall kecil yang tipologinya berbeda dengan tipologi lain di buku yang disebut di atas.

Tercapaikah tujuan dari desain bangunan itu? Bila dibandingkan bangunan toko milik perusahaan Amanda, perusahaan makanan yang juga terkenal di Bandung, Kartika Sari Commercial Building lebih ramai dikunjungi. Bisa jadi karena keragaman fungsi yang ada di sana. Sekali lagi, ini membuktikan bahwa berani keluar dari tipologi dan melihat keinginan pasar lebih dalam bisa membuat tujuan desain kita tercapai.

Kebutuhan manusia yang ingin menikmati bangunan ini dan apa yang di dalamnya terlihat dari kualitas visual dan kualitas suasana ruang yang memanjakan pengunjung. Permainan cahaya matahari dan lampu dibuat sangat apik dengan warna yang kalem khas Kartika Sari. Wajar saja, pemilik Kartika Sari juga menyewa ahli tata cahaya untuk mengatur hal di atas. Tentunya, ini membuat peran arsitek semakin kecil!

Bukan hanya itu, keinginan manusia agar bergerak secepat-cepatnya dengan tenaga sekecil-kecilnya diakamodasi oleh ‘para perancang’. Mereka meletakkan sepasang eskalator dalam bangunan ini! Memang boros jika dilihat dari kacamata sustainable design. Tapi sekali lagi, masyarakat ingin dimanjakan. Pasar berkata seperti itu, maka seperti itu akan terjadi.

Tidak heran jika menurut pengakuan Empunya bangunan, biaya bangunan ini hampir dua kali lipat dari biaya bangunan dengan fungsi sejenis. Mubazir? Tidak akan mubazir jika keuntungan yang diraih bisa menutupi biaya tersebut. Karena bangunan ini direncanakan dengan titik tolak ekonomi, maka titik evaluasi pun adalah ekonomi. Gagal atau tidaknya desain bangunan ini ditentukan dari keuntungan yang diraih perusahaan.

Bisa dibilang, bangunan ini mengambil posisi yang tegas di tengah paradoks ‘utamakan manusia’ atau ‘utamakan lingkungan’: posisi dimana keinginan manusia menjadi nomor satu.

Bangunan sebagai manifestasi semangat zaman

Bagi saya, bangunan ini merupakan manifestasi dari kondisi masyarakat Bandung (atau mungkin Indonesia) saat ini. Masyarakat yang (masih) memanfaatkan setiap ruang untuk memperoleh keuntungan. Masyarakat yang (masih) menjadikan pasar (baca: uang) sebagai rujukan untuk melakukan segala sesuatu. Masyarakat yang (masih) mengejar profit – belum benefit – melepaskan diri dari penghematan energi atau penjagaan kualitas lingkungan. Masyarakat yang (masih) bertanya ‘Ada untungnya buat saya atau tidak?’

Kenyataannya, meski buang-buang energi hanya untuk memanjakan manusia, Kartika Sari Commercial Building tetap ramai. Karena pada dasarnya, manusia ingin dimanjakan sekaligus dapat profit.

Tidak seratus persen salah karena toh manusia butuh uang kalau ingin hidup.

  1. zuh, kalau ngaduin paradoks antara kebutuhan manusia sama pelestarian alam, yah pasti gak akan selesei, mending nyari cara biar win2 solution. Dua2nya terpenuhi, kayak misal, dulu orang bikin mobil/motor buat mempermudah mobilisasi, tapi sekarang jadi kebanyakan teruas menimbulkan masalah polusi, dll. Tp dengan teknologi hybrid, bahan bakar bioetanol, listrik, dll, setidaknya bisa mengurangi dampak ke lingkungan. Jadi aku si cenderung penuhi dulu kebutuhan manusia, baru evaluasi dampaknya ke yg lain, terus cari solusinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: