Buah Pikiran Para Perancang Masa Depan

Selaras dengan Gereja, Selaras dengan Lingkungan

In Jessika Mayrinda on November 19, 2011 at 8:08 am

Jessika Mayrinda

Berdiri tegak hingga kini, Gereja Katedral Santo Petrus yang bertempat di Jalan Merdeka Bandung menjadi salah satu bangunan bersejarah yang mampu menyita perhatian siapapun yang melewatinya di sepanjang jalan. Menjulang di antara bangunan-bangunan baru yang kini mulai beranjak mengadopsi gaya-gaya modern, gereja karya Charles Prosper Wolff Schoemaker ini menyuarakan kemegahan gaya Neo Gothik yang umum dimiliki oleh gereja-gereja, terutama gereja Katholik pada masa perkembangannya.

Sekilas sejarah dari gaya ini, Neo Gothik atau Gothic Revival mulai berkembang di Inggris pada tahun 1740. Gaya ini diterapkan dalam hampir seluruh bangunan peribadatan (gereja), kastil, istana, dan bangunan-bangunan yang dihuni oleh pemerintah ataupun kaum bangsawan di beberapa negara di Eropa. Ekspresi akan kekuasaan dan kekuatan yang diterjemahkan ke dalam prinsip perancangan dan elemen-elemen bangunan seperti penggunaan busur bersudut (pointed arch), bukaan-bukaan tinggi dengan kaca patri dekoratif, dan adanya penerapan prinsip simetri dan hirarki terlihat pada gereja Katedral Santo Petrus. Gaya Neo Gothik yang begitu kuat pada gereja ini membuatnya memiliki ciri khas tersendiri di tengah-tengah kawasan Jalan Merdeka.

Gambar 1. Gereja Katedral Santo Petrus

Walaupun kawasan ini merupakan salah satu dari kawasan-kawasan yang kaya akan bangunan bersejarah dengan gaya arsitektur kolonial maupun klasik (misalnya Braga), beberapa tahun terakhir mulai banyak bangunan baru yang didirikan atau dirancang kembali dengan gaya modern, dan berpotensi ‘menutupi’ kemegahan bangunan bersejarah sebagai bangunan pendahulu atau eksisting di kawasan tersebut. Menurut teori kontekstualisme, rancangan bangunan baru di dalam kawasan yang sarat akan bangunan bersejarah seharusnya dapat memperhatikan lingkungan sekitarnya, bahkan mampu memperkuat identitas lingkungan tersebut, terkait dengan sejarah yang dikandungnya. Namun beberapa bangunan di Jalan Merdeka dirancang tanpa memperhatikan teori ini. Tak hanya tampak atau wajah  keseluruhan yang dominan, ketinggian bangunan tersebut cukup mengkhawatirkan apabila dibandingkan dengan bangunan bersejarah di sekitarnya.

Walau begitu, di antara bangunan-bangunan tersebut ada pula yang dirancang kembali dengan prinsip tetap mempertahankan karakter serta sejarah di kawasan tersebut. Bangunan-bangunan ini contohnya adalah renovasi dari Gedung Sekretariat Gereja Katedral Santo Petrus dan Sekolah Santo Yusup II.

Gambar 2. Gedung Sekretariat Gereja Katedral Santo Petrus pada tahun 1922

Bangunan pertama, yaitu Gedung Sekretariat Gereja Katedral Santo Petrus merupakan bangunan pendukung yang awalnya dibangun bersamaan dengan gereja pada tahun 1922. Gedung satu lantai ini dirancang tanpa menerapkan gaya Neo Gothik yang dimiliki oleh gereja. Atap pelana dengan genteng sebagai penutupnya, serta bukaan-bukaan yang tidak tinggi menunjukkan adanya perbedaan yang cukup signifikan dengan gereja. Walaupun terdapat peninggian level lantai sekitar 1 meter dari jalan, dan pengelompokan bagian ‘kaki’ dari ‘badan’ dan ‘kepala’ bangunan melalui penambahan material batu tempel, hal tersebut tidak cukup menunjukkan kesenadaan gedung sekretariat dengan gereja.

Pada sekitar awal tahun 2000, gedung sekretariat ini direnovasi dan oleh pihak gereja selaku inisiator renovasi. Pihak gereja mengharapkan bangunan yang lebih mampu merepresentasikan karakter gereja. Bangunan pun dikembangkan menjadi gedung dua lantai dengan penambahan banyak hal.

Gambar 2. Gedung Sekretariat Gereja Katedral Santo Petrus pada tahun 2002

Agar selaras dengan gereja sebagai bangunan eksisting-nya, prinsip perancangan kontesktual yang diterapkan adalah continuity atau harmonisasi, dan uniformity atau replikasi. Untuk mencapai keselarasan, beberapa elemen bangunan yang dapat merepresentasikan ciri khas gereja  secara visual pun ditambahkan.

Nuansa warna krem dan cokelat yang terlihat dominan pada gereja diterapkan pula pada gedung sekretariat. Pola-pola garis vertikal dan horizontal juga ditambahkan pada dinding terluarnya, berupa penipisan di bagian teratas dinding. Terdapat tambahan kolom-kolom dengan olahan serupa, yaitu mengecil secara bertahap pada bagian atasnya. Bentuk kolom yang bertahap tersebut selaras dengan olahan pada dinding gereja. Dinding gedung sekretariat yang menebal pada beberapa bagian karena adanya kolom terlihat serupa pula dengan dinding gereja.

Gambar 4 dan 5. Beberapa detail pada gereja dan gedung sekretariat yang senada

Selain kolom dan dinding yang ditebalkan/ ditipiskan secara bertahap, teritisan kantilever di seluruh sisi luar gedung sekretariat dibuat mengikuti pola pada gereja, di mana dinding di atas setiap bukaan, baik pintu maupun jendela dimajukan untuk meneduhi bagian tersebut.

Gambar 6. Kusen jendela berbentuk menyudut pada sisi selatan gedung sekretariat

Seolah ingin mengikuti bentuk busur bersudut yang khas pada gereja, beberapa kusen jendela di sisi selatan gedung sekretariat dirancang berbentuk menyudut dengan material kayu untuk mempertahankan nuansa kecoklatan pada seluruh bangunan. Adapun kaca patri dekoratif juga digunakan pada jendela tersebut.

Seperti gereja yang terbagi dengan jelas bagian-bagian ‘kepala’, ‘badan’, dan ‘kaki’nya, pengelompokan bagian bangunan pun dilakukan oleh perancang gedung melalui pemanfaatan material. Apabila bagian ‘badan’ bangunan merupakan dinding bata plester dengan cat berwarna krem, bagian ‘kaki’ merupakan dinding yang dilapisi batu tempel, serupa dengan gedung sekretariat pada awal didirikan dahulu. Bagian ‘kepala’ merupakan kombinasi antara atap pelana dan perisai, dengan genteng sebagai penutupnya. Hal ini serupa dengan gereja yang juga beratap genteng.

Walaupun tidak menerapkan gaya Neo Gothik secara signifikan seperti gereja, menurut saya gedung sekretariat yang baru ini memiliki karakter ‘wajah’ yang hampir serupa dengan gereja karena adanya replikasi dan beberapa modifikasi dari elemen-elemen bangunannya. Modifikasi tersebut diupayakan agar tetap relevan dengan fungsi gedung sekretariat sehingga menghasilkan komposisi yang apik.

Gambar 7. Tampak depan gedung sekolah Santo Yusup II

Bangunan kedua yaitu Sekolah Santo Yusup II yang terletak tepat di sebelah Gedung Sekretariat Gereja Katedral Santo Petrus dan Gereja Katedral Santo Petrus pun mengalami ‘perlakuan’ serupa dalam usaha penyelarasan dengan bangunan eksisting. Bangunan yang berdiri saat ini merupakan bangunan hasil renovasi, dan bangunan awalnya merupakan gedung sekolah Katholik khusus putra bernama Sekolah Santo Berchmans. Direnovasi pada tahun yang sama dengan gedung sekretariat gereja, pihak yayasan sekolah (Ordo Salib Suci) menginginkan gedung yang juga selaras dengan gereja, dan aksesibel serta terhubung dengan gedung sekretariat gereja yang terletak di sebelahnya untuk memudahkan beberapa kegiatan. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, prinsip yang diterapkan adalah continuity dan uniformity.

Dalam penerapannya, tak hanya selaras dan seragam (dalam beberapa elemen) dengan gereja, namun gedung sekolah ini juga terlihat seragam dengan gedung sekretariat gereja. Selain nuansa krem dan coklat yang dominan, pola-pola vertikal dan horizontal yang serupa penerapannya dengan gereja dan gedung sekretariat ditemukan pada gedung. Dinding yang ditebalkan dengan dengan finishing plester dan cat pada gedung memiliki pola penempatan yang hampir serupa dengan gereja, yaitu pada bagian sudut-sudut bangunan. Dinding yang berbeda ketebalannya secara bertahap juga terlihat di atas jendela, dengan tujuan yang sama yaitu untuk meneduhi dari sinar matahari.

Sebagai tambahan, di sisi kiri dinding gedung terdapat celah-celah berbentuk bujursangkar yang kemudian ditutupi oleh glassblock. Selain itu, celah dengan glassblockini juga terdapat pada dinding di sisi barat gedung, yang disusun membentuk suatu pola memanjang secara vertikal. Jenis bukaan seperti ini merupakan tambahan yang tidak ditemukan pada gereja maupun gedung sekretariat. Pembagian ‘kepala’, ‘badan’, dan ‘kaki’ bangunan memanfaatkan material dan warna seperti batu tempel dan cat.

Gambar 8. Dinding yang ditebalkan pada sudut gedung sekolah

Gambar 9. Pola celah-celah bujursangkar dengan glassblock

Selain selaras secara bentuk, untuk memenuhi kebutuhan akan akses dan penghubung dengan gereja dan gedung sekretariat gereja dirancang suatu koridor yang tak hanya dapat dilalui oleh manusia, namun juga kendaraan roda dua hingga roda empat. Fleksibilitas untuk lalu-lalang serta memarkirkan kendaraan di dekat koridor memudahkan akses dan mobilitas umat gereja, siswa, ataupun petugas gereja yang berkepentingan. Keselarasan dalam hal sirkulasi pun terlihat di dalam rancangan ini, di mana terdapat akses yang baik menuju gereja, sekolah, maupun gedung sekretariat namun tidak mengganggu kepentingan dan aktivitas yang mendasar dari fungsi ketiga bangunan. Gereja tetap dapat berfungsi dengan optimal, begitu pula dengan sekolah dan gedung sekretariat, tanpa terganggu oleh ketiga aktivitas masing-masing yang saling bersilangan.

Gambar 10. Tangga ‘melayang’ yang menghubungkan gedung sekolah dan sekretariat gereja

Untuk menghubungkan secara langsung sekolah dengan gedung sekretariat, ditambahkan koridor baru yang berupa tangga ‘melayang’ yang menerus dari lantai ketiga gedung sekolah menuju lantai kedua gedung sekretariat gereja. Tangga melayang ini merupakan tambahan terbaru dalam bangunan sekolah, dan merupakan usaha untuk menciptakan akses langsung yang mudah menuju gedung sekretariat gereja tanpa mengganggu jalur sirkulasi yang telah ada sebelumnya.

Serupa dengan gedung sekretariat gereja, walaupun tidak terlihat penerapan gaya Neo Gothik yang signifikan, menurut saya gedung sekolah ini bersama dengan gereja memiliki banyak kesamaan, sehingga akhirnya ketiga bangunan ini terlihat ‘satu’ dalam kesatuan kompleks walaupun dua dari antaranya merupakan bangunan baru.

Selain selaras dengan bangunan eksisting, dalam konteks lingkungan sekitar kedua bangunan ini tidak menimbulkan sesuatu yang ‘mengejutkan’ atau kontras secara berlebihan. Upaya replikasi yang tidak terlalu menonjol terhadap bangunan eksisting, karena dibarengi modifikasi yang relevan dengan fungsi masing-masing bangunan yang baru, menciptakan keselarasan di antara ketiganya, baik satu sama lain (bangunan lama dengan yang baru) maupun dengan lingkungan di luarnya (di kawasan Jalan Merdeka dan sekitarnya).

***

Sumber Literatur :

Priatmodjo, Danang. (1989). Perkembangan Arsitektur Gereja. Arsitektur Gereja Katolik, hal. 15-45. Jakarta : Fakultas Teknik Universitas Tarumanegara

Budi, Bambang Setia. (2007). Schoemaker dan Penanda Kota Bandung. http://bambangsb.blogspot.com

Narasumber :

Bambang Setia Budi, ST. MT. Dr.Eng.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: