Buah Pikiran Para Perancang Masa Depan

Elegi Seni, Arsitektur, dan Wabi-sabi

In Sri Suryani on November 12, 2011 at 9:06 am

Sri Suryani

Dua seniman besar, dua galeri, dan dua idealisme estetika yang dijunjung. Ketika arsitektur dituntut untuk memiliki nilai keindahan yang di atas batas ‘biasa’, terlebih jika harus merepersentasikan citra seorang seniman ternama, bagaimanakah konsep keindahan yang diciptakan?

Wabi-sabi dan Galeri sebagai Wadah Estetika

Keindahan dasar terletak pada ketidaksempurnaan dan sentuhan waktu padanya, itulah arti umum wabi-sabi. Kanji wabi sendiri dapat diterjemahkan dalam beberapa makna, yaitu kekurangan atau tidak sempurna (somatsu na yosu), bersahaja (kansou na yosu), dan miskin (binbou). Sabi dapat diartikan sebagai perubahan karena waktu (keiken henka), kesepian (sabishii), dan berkarat (sabiru). Kajian arti keindahan ini tidak banyak bergeser hingga sekarang, selain maknanya yang lebih positif dan optimis.

Di sisi lain, keindahan yang tidak terang-terangan merupakan salah satu makna dari seni. Herbert Read (1951) menegaskan, “For art is not necessarily beauty: that cannot be said too often or too blatantly.” Pada akhinya, sesuatu yang indah menurut suatu zaman, belum tentu indah pada zaman setelahnya. Konsep keindahan hakiki tidak muncul dari kosmetik yang meminta apresiasi berlebihan.

Galeri sebagai suatu ruang yang berfungsi sebagai wadah memamerkan suatu karya seni merupakan mediator antara seniman dan masyarakat umum, karena itu arsitektur galeri harus bersedia untuk mengalah dengan objek yang dipamerkan dalamnya. Pada titik ini, konsep keindahan wabi-sabi memiliki benang merah dengan fungsi mendasar pada galeri. Kesahajaan dan kesederhanaan dalam arsitektur menjadi standar suatu galeri.

Selasar Sunaryo dan NuArt Gallery merupakan galeri dengan skala yang cukup besar di Bandung. Sebagai wadah karya seni, keduanya memiliki caranya masing-masing untuk tampil dan mengantarkan objek di dalamnya kepada masyarakat umum. Idealisme seorang seniman besar muncul di sini. Lalu apakah kesahajaan dan kesederhanaan tersebut ada?

Selasar Sunaryo Artspace: Seni Menua dalam Alam

Suasana area masuk Selasar Sunaryo

Di suatu lembah di antara perbukitan timur Dago Pakar yang sepi, suatu artspace berdiri menawarkan estetika seni dalam kesederhanaan. Atmosfir perbukitan hijau yang sunyi dan dingin seakan didukung kuat oleh keberadaaan tempat yang biasa disebut selasar seni. Simplisitas dan ketenangan seakan menjadi media bagi Selasar Sunaryo Artspace untuk ‘berbicara’ dengan lingkungan sekitarnya.

Dibangun selama lebih dari empat tahun (1993-1997) oleh Sunaryo selaku seniman dan Baskoro Tedjo selaku arsitek, selasar yang juga sering digunakan untuk aktivitas budaya ini selalu menorehkan kesan estetis yang khas pada pengguna. Rendah hati, ketidak sempurnaan, dan kesepian merupakan kesan-kesan yang pertama muncul ketika berada di dalam maupun luar ruangan. Open exhibition dan permainan sistem selasar dengan beragam elevasi yang ada memunculkan sensasi ruang yang berbeda-beda. Ekspos material juga merupakan satu karakter yang sangat kental ditemukan pada Selasar Sunaryo Artspace. Kesederhanaan bentuk, tampak, dan suasana adalah hal yang pertama terasa. Tanpa disadari, konsep estetika Jepang wabi-sabi dapat dirasakan dalam pemaknaan arsitekturnya.

Selasar Sunaryo Artspace memunculkan satu dogma baru dalam definisi galeri. “Awalnya, galeri didefinisikan sebagai ruang penghubung dalam satu ruang yang lebih besar,” ungkap Baskoro Tedjo, “Sunaryo menginginkan impresi galeri sebagai tempat yang humble. Ia sederhana dan merupakan bagian dari kesatuan yang lebih besar, karenanya disebut selasar.” Saliya (2008) menyebutkan, “Selasar lebih terbuka dan mendekati kenyataan sehari-hari daripada museum yang bersumber pada mitologi Yunani klasik. Bagaimanapun, bagi Sunaryo gagasan Selasar yang lebih terbuka akan memungkinkan penjelajahan berkesenian yang lebih luas dan beragam, alih-alih gagasan museum yang berat dan kaku, atau galeri yang cenderung komersil dan berselera pasar itu. ”Hal ini sejalan dengan sejarah wabi yang berlatarbelakang ketidaksetaraan sosial ekonomi Jepang pada abad 16. Dari kondisi senada, Selasar Sunaryo menawarkan suatu gagasan bahwa nilai keindahan terletak pada kedekatan dengan alam dan manusia yang diturunkan pada konsep selasar yang merepresentasikannya. Pada aspek desain, makna tersebut juga diwujudkan pada simplisitas massa, elemen arsitektur, detail, dan lanskap.

Bata merah, batu kali, dan material lain yang larut dalam usia

Batu kali yang gelap dan batu merah yang terang atau serat kayu, beton bertekstur yang ditunjukkan apa adanya merupakan pilihan-pilihan bahan yang paling dominan dipakai pada desain bangunan yang meraih penghargaan IAI Award 2002 ini. Pemanfaatan material alam membuat Selasar seakan ‘menyapa’ dan ‘berdialog’ dengan tapaknya yang berada di lembah bukit. Batu bata telanjang dan beton bercat abu-abu kini menua dengan seiring perputaran waktu sejak 10 tahun Selasar ini berdiri. Lumut menghitam dan perubahan fisika akibat berjalannya waktu dan cuaca tidak lepas dari konsep sabi dalam estetika Jepang. Perubahan persepsi makna keindahan bahwa semakin menua, semakin layu dan termakan usia seperti takdirnya, semakin nilai estetika dapat terlihat adalah satu nilai yang dikenalkan oleh Selasar ini. Dari segi perawatan, penanganan lapuknya material ini tentu butuh perhatian khusus agar tidak mengganggu fungsi dasarnya sebagai wadah aktivitas seniman dan komunitas dalam berkarya.

Transformasi atap julang ngapak memunculkan suatu bentuk galeri yang geometris. Penggunaan material beton bercat abu-abu membuat galeri berbaur dengan lingkungan sekitar. Bukaan kaca seperlunya membuat efek solid void yang dramatis dan memperkuat keutuhan massa yang sederhana. Simplisitas dan konsistensi bentuk menjadikan Selasar ini memiliki karakter keindahan seperti dalam wabi.

Adalah satu impian panjang Sunaryo untuk menciptakan wadah bagi seni miliknya, satu pusat aktivitas budaya yang didedikasikan untuk dunia seni Indonesia. Selasar Sunaryo Artspace adalah wujud mimpi itu. Ia hadir dengan keindahannya sendiri. Karya-karya Sunaryo sebagai objek keindahan yang ditawarkan cuma-cuma untuk diapresiasi dan di alam bawah sadar, sementara nilai keindahan pada fisik Selasar tertoreh, menua dalam kesahajaan.

NuArt: Idealisme Seniman dan Arsitektur

Eksterior Galeri

Bukan bangunan beton berselubung tembaga atau bentuk organik terpatah-patah yang ditemukan ketika menatap galeri milik salah satu seniman patung terkemuka yang satu ini. Bentuk kubus kaca fungsional yang justru tampak dari depan, terbingkai oleh pohon-pohon tinggi besar, menyambut pengunjung yang datang dari gerbang kompleks galeri. Ikan-ikan yang berdesakan, siluet kepala seorang wanita, tubuh terpisah seorang laki-laki adalah rupa patung-patung yang berdiri dalam diam di sudut-sudut ruang luar di sekitar galeri. Bergejolak dan bersemangat adalah dua pilihan kata yang dapat merepresentasikan patung-patung sang seniman. Tidak dapat dipungkiri, Nyoman Nuarta adalah satu dari beberapa seniman yang memiliki kekuatan idealisme seni pada setiap sentuhan karyanya.

Perspektif Bentuk Massa dari Sculpture Park

Berada pada satu bukit di Bandung Selatan di tengah kompleks perumahan elit, galeri Nyoman Nuarta yang dikenal dengan nama NuArt berjuang mempertahankan eksistensi dan idealisme seorang seniman. Seperti halnya sebuah patung, arsitektur bagi Nyoman Nuarta adalah media kreativitas, yakni wadah terciptanya suatu bentukan unik dan ‘keluar dari kebiasaan’. Diresmikan sejak tahun 2000 dengan Ersat B. Amidarmo dan Nyoman sendiri sebagai perancang, NuArt merupakan satu wadah untuk Nyoman Nuarta menjalani profesinya sebagai seniman dari proses penciptaan karya hingga pameran. Dengan kombinasi kubus dan piramida di atasnya, NuArt berusaha menarik perhatian setiap orang yang lewat. Permainan selubung bangunan berupa susunan tile lantai yang seakan tumbuh dari tanah lalu rontok satu per satu dan memunculkan ‘kulit dalam’ berupa kaca hijau yang mencerminkan pohon-pohon di sekitar seakan memunculkan sensasi tersendiri. Hal senada juga terkesan dari atap piramida diatas kubus kaca yang muncul seakan melayang-layang di udara. “Citra rupa, harus ada di arsitektur itu,” tegas Ersat B. Amidarmo, “Dia seniman juga kok, arsitek itu.” Bagi Ersat, fasade tidak biasa yang membalut bentuk fungsional galeri NuArt adalah satu solusi yang ditawarkan untuk mencapai imej galeri yang sudah selayaknya mencitrakan seni bermain dan bercerita dengan keunikannya.

Dengan visi fungsionalisme, bentuk kubus tercipta untuk mewadahi patung Nyoman yang berukuran relatif besar. Namun, hal tersebut menjadi tidak sejalan dengan penggunaan warna krem pada dinding dan lantai marmer  yang sedikit mengganggu fokus penglihatan menikmati karya, apalagi ditambah dengan permainan kolom bertekstur yang dibuat ‘retak’ yang menarik perhatian. Material kaca pun hanya kulit luar, panel gypsum tetap digunakan untuk media display karya seni. Dalam kasus ini, konsep architecture as sculpture dinilai kurang relevan karena arsitektur mau tidak mau harus bernegosiasi dengan objek seni di dalamnya.

Selain patung-patung tembaga berkarat yang diekspos di luar galeri, tidak terasa adanya wabi-sabi yang murni. Keretakan dan kesan ‘tidak sempurna’ yang ada pada eksterior dan interior bangunan justru menjadi banal jika dihubungkan pada kekurangan atau tidak sempurna (somatsunayosu) dalam konsep wabi. Permainan geometri massa dan selubung bangunan yang menarik perhatian juga tidak sejalan dengan konsep kesederhanaan atau simplisitas yang menjadi cirri utama wabi. Sabi dalam bentuk ekspos material yang termakan waktu juga terlihat kurang maksimal.

Sebagai seorang seniman senior, Nyoman memiliki definisi seni dan keindahan personal yang menjadi kekuatan dalam diri, tak terkecuali galerinya. Secara kebebasan ekpresi, geliat ‘tidakbiasa’ atau nyeleneh yang muncul dari bentuk luar dan dalam bangunan NuArt memunculkan nilai keindahan miliknya sendiri, seperti disebutkan Herber Read (1951), “Beauty is sometimes defined simply as that which gives pleasure; and thus people are driven into admitting that eating and smelling and other physical sensations can be regarded as arts.

Elegi antara Seni, Arsitektur, dan Wabi-sabi

            Karya-karya yang indah bukanlah karena kesempurnaan wujud dan bingkai temanya saja, namun juga memberikan petunjuk-petunjuk dan pertanda-pertanda adanya pertemuan produktif. Baik pada Selasar Sunaryo Artspace maupun NuArt Gallery, nilai estetika menjadi satu hal yang menyiratkan semangat khas seniman-seniman di dalamnya, bukan satu estetika universal yang hanya mengikuti dogma tertentu apalagi selera pasar. Di atas itu semua, arsitektur- dalam hal ini galeri- merupakan manifestasi fisik citra dan esensi seni yang harus menampung aspirasi fungsi dan gejolak estetis. Ketika bicara mengenai fungsi sebagai hal mendasar dalam arsitektur, konsep simplisitas Selasar Sunaryo dapat dinilai lebih baik menonjolkan seni dibandingkan keunikan vokal NuArt Gallery. Wabi-sabi yang kental dengan nilai-nilai universal merupakan salah satu jalur menciptakan suatu nilai estetika yang berbeda. Dalam kasus galeri seni, kesahajaan dan kesederhanaan dapat menjadi satu solusi untuk menjawab keindahan fungsional. Pada akhirnya, seni, arsitektur, dan wabi-sabi menciptakan elegi, dimana ketiganya saling berdialog satu sama lain.

 

DaftarPustaka:

Read, Herbert. 1951. The Meaning of Art. London: Faber & Faber Limited.

Sadami, Suzuki & Iwai Shigeki. 2006. Wabi, Sabi, Yugen. Japan: Suiseisha.

Setiawa, Hawe & Agung Jyatnikajennong. 2008. Dedikasi Satu Dekade. Bandung: Yayasan Selasar Sunaryo.

NuArt Gallery http: http://nuarta.com/diakses pada 28 November 2010

SelasarSunaryoArtspacehttp://selasarsunaryo.com/diakses pada 8 November 2010

Wawancara dengan Ersat B. Amidarmo 2 Desember 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: