Buah Pikiran Para Perancang Masa Depan

Citra Bentuk Perpustakaan Universitas: Jantung Kampus ITB dan UI

In Resya Wulanningsih on October 22, 2011 at 12:37 pm

Resya Wulanningsih

Perpustakaan Pusat ITB

Berdiri megah di utara kampus Institut Teknologi Bandung, gedung Perpustakaan Pusat ITB dirancang oleh Ir. Slamet Wirasonjaya. Perencanaan gedung perpustakaan perguruan tinggi ini dimulai pada tahun 1975, dan pembangunannya selesai pada tahun 1987 dengan luas 9.000 meter persegi. Jika kampus ITB dilihat dari arsitektur bangunannya dapat dibagi menjadi tiga zona: zona heritage di daerah depan dari jalan Ganesha sampai Campus Center; zona transisi di Plaza Widya dan labtek kembar; zona modern di utara Plaza Widya yang meliputi gedung Biologi, TVST, oktagon, gedung serba guna, dan sekitarnya, termasuk Perpustakaan Pusat.

Gedung perpustakaan saat ini merupakan pembangunan tahap pertama dari dua tahap yang direncanakan. Pembangunan tahap kedua akan dibangun di lahan yang sekarang menjadi tempat parkir jika gedung yang sekarang sudah terisi penuh, diperkirakan tercapai paling cepat setelah 25 tahun dari pembangunan gedung tahap satu. Tahun 2010 ini, berarti sudah 23 tahun sejak pembangunan tahap 1.

Bentuk yang unik dan tidak biasa, yang terlihat dari gedung perpustakaan ini, “Bentuk itu seperti rak buku,” ujar Ir. Slamet Wirasonjaya. Rak buku atau tumpukan buku, menjadi pilihan bentuk bangunan perpustakaan dalam merancang dengan tema analogi bentuk.

Gambar 1

“Gubahan bentuk bangunan ini merupakan kompromi antara bentuk dan konteks lokasi; hasil sintesis antara ekspresi bentuk yang menyimbolkan tumpukan buku dan letaknya yang berada di area tempat ‘persinggungan’ dengan sumbu imajiner kampus ITB. Plastisitas material beton memungkinkan terwujudnya ruang dan bentuk seperti yang diharapkan.” – SLW, Dhian Damajani (2006:37).

Orientasi bangunan yang memanjang dari Utara ke Selatan membuat sisi Timur-Barat yang terekspos matahari, sehingga bukaan-bukaan hanya terdapat di sisi pendek bangunan. Pintu masuk di badan Barat, terdapat teras yang biasa menjadi tempat duduk-duduk dan diskusi mahasiswa, dinaungi pergola dari fiberglass biru yang membentuk lengkungan kecil-kecil, pola yang berulang juga pada lengkungan atap yang disebut seperti buku.

Bentuk bangunan yang berundak-undak tiap lantainya, dari bawah hingga ke lantai paling atas makin mengerucut, menciptakan teras-teras atap yang dibentuk lengkung. Di sisi utara-selatan undakan itu menjadi lantai-lantai kantilever, dengan jendela kaca dari lantai hingga plafon. Dilihat dari sisi Utara atau Selatan, bangunan ini menyerupai tumpukan buku-buku. Buku paling besar berada di bawah, ditumpuk hingga ke atas dengan ukuran buku yang semakin kecil. Bentuk buku yang menjadi analogi bentuk gedung ini langsung dapat dipersepsikan sebagai fungsi bangunan perpustakaan. Uniknya, jika dilihat dari seberang jalan tamansari, gedung perpustakaan dengan gedung PAU terlihat harmonis, bentuk kotak yang berundak-undak pada gedung PAU seperti buku-buku yang berderet berdiri rapat. Sumbu imajiner kampus ITB Utara-Selatan membelah kedua bangunan, dipisahkan oleh Sunken Court (nama sebuah area yang letaknya dibawah lantai dasar seakan-akan tenggelam) yang juga dirancang oleh Ir. Slamet Wiransonjaya.

Sesuai tahun perancangannya, gedung perpustakaan ini juga terlihat mewakili gaya late modern movement, yang memperlihatkan kejelasan struktur, ide-ide inovatif, mengembangkan bentuk sederhana dan sebagian menggunakan bentuk plastis seperti kurva dan lengkung. Material fasad dan struktur umumnya beton dan eksplorasi material tersebut untuk menciptakan bentukan yang diharapkan. Seperti pada karya Ir. Slamet Wirasonjaya lainnya, beliau juga memperlihatkan gaya late modern movement yang serupa, dengan bentuk lengkung, kurva, dan eksplorasi material beton. Pada karyanya yang beliau sebut Science Center ITB atau Sasana Budaya Ganesha, Pusat Dakwah Islam Bandung, dan karya-karya lainnya, beliau memainkan bentuk-bentuk yang unik dan inovatif pada masanya. Bentuk lengkung, busur, segitiga sering dijumpai pada rancangan beliau yang memperkaya wacana arsitektur di Indonesia.

Dua kali berganti muka, gedung perpustakaan ini menurut perencanaan awal oleh sang arsiteknya memang menggunakan material fasad berupa metal. Namun karena perbedaan pendapat saat proses Design Development, gedung ini jadi dicat putih, seperti yang terlihat di Buletin Alumni ITB Juli 1989 (Gambar 2). Pada perkembangan selanjutnya, gedung putih itu menjadi kusam dan berlumut, sehingga peremajaan perlu dilakukan. Lagi-lagi perencanaan berubah, wajah gedung ditempel keramik biru-putih, mungkin pada saat itu fasad keramik pada bangunan memang sedang tren, sehingga digunakan juga pada perpustakaan ini (Gambar 3).

Gambar 2
Gambar 3

Perpustakaan Baru UI

Perpustakaan baru UI yang dikerjakan sejak Juni 2009 dirancang sebagai gedung ramah lingkungan (eco-friendly) terbesar di dunia. Luas keseluruhan bangunan 30 ribu meter persegi dan merupakan pengembangan dari perpustakaan pusat yang dibangun pada 1986-1987. Gedung perpustakaan tersebut dirancang dengan konsep sustainable building bahwa kebutuhan energi menggunakan sumber terbarukan, yakni energi matahari (solar energy). Area bangunan ramah lingkungan itu bebas asap rokok, hemat listrik, air, dan kertas.

Rencananya, ruang perpustakaan pusat UI terdiri atas delapan lantai. Lantai dasar berisi pusat kegiatan dan bisnis mahasiswa yang terdiri atas toko buku, toko cinderamata, ruang internet, serta ruang musik dan TV. Ada juga restoran dan kafe, pusat kebugaran, ruang pertemuan, ruang pameran, dan bank. Lantai 2 hingga 6 akan dilengkapi fasilitas seperti ruang tamu, ruang pelayanan umum dan koleksi, ruang baca, ruang teknologi informasi, serta unit pelayanan teknis. Sedangkan di lantai 7 terdapat ruang sidang dan ruang diskusi. Gedung perpustakaan juga dilengkapi plaza dan ruang pertemuan yang menjorok ke danau.

Gambar 4
Gambar 5

Sebuah crane setinggi sekitar 75 meter masih beroperasi di atas gundukan tanah menyerupai bukit di kompleks kampus UI Depok (Gambar 5). Bagai tangan mekanis raksasa, alat berat itu memindahkan bahan bangunan kepada para pekerja yang bersiap di punggung bukit yang ditanami rumput hijau tersebut. Di atas bukit rerumputan itu tampak menjulang bangunan berbentuk seperti cerobong asap berwarna abu-abu.

Dari jauh, bangunan itu tampak seperti batuan yang disusun di atas bukit. Namun, ternyata bukit hijau tempat para pekerja berdiri itu menyatu dengan bangunan mirip cerobong yang berdiri di atasnya. Di balik gundukan rerumputan hijau yang menjulang hingga beberapa ratus meter itu terdapat ruangan-ruangan kosong yang disiapkan sebagai ruang utama perpustakaan UI.

Desain awal perpustakaan itu diperoleh dari sayembara yang dimenangkan PT Daya Cipta Mandiri (DCM) dan mengambil tema Morpheus. Modelnya menghadirkan bangunan masa depan dengan mengambil sisi danau sebagai orientasi perancangan. Penggunaan bukit buatan sebagai potensi pemanfaatan atap untuk fungsi penghijauan. Sedangkan pencahayaan alami dilakukan dengan melalui beberapa skylight.

Gambar 6

Gedung baru yang menjulang di tengah-tengah kampus UI itu menjadi perhatian karena bentuknya yang tidak biasa, seperti intan hitam yang menusuk keluar dari perut bumi. Bentuk ini menghadirkan citra bangunan yang kuat dan berteknologi tinggi, sekaligus menjadi landmark baru kampus UI. Tipologi bangunan perpustakaan yang khas seperti pada perpustakaan pusat ITB tidak terlihat di bangunan ini. Melihatnya, mungkin seperti melihat piramida kaca Ioh Ming Pei di depan museum Louvre. Perpustakaan ini berdiri kokoh di luar patron arsitektur bangunan-bangunan UI dengan ciri khas bata merahnya.

Perpustakaan, Jantung Universitas

Kedua perpustakaan perguruan tinggi di atas dapat menjadi citra kebanggaan universitas, oleh karena itu bentuk yang diambil untuk perpustakaan menjadi sangat beragam dan tidak biasa. Perpustakaan menjadi tempat mahasiswa mencari ilmu, tidak lagi hanya lewat buku. Perpustakaan sekarang berbasis kecanggihan teknologi, sumber informasi dapat diakses melalui komputer sehingga tidak perlu lagi perpustakaan menjadi gudang buku tua yang suram dan berbau lembab. Arsitektur gedung perpustakaan perguruan tinggi membawa nama universitas, menjadi cermin ilmu pengetahuan dan teknologi. Bentuk-bentuk baru digunakan, dengan mengusung prinsip arsitektur hijau, menjadi ajang perlombaan kampus terkini.

***

Referensi:

Damajani, Dhian. SLW. 2006. Bandung: Program Studi Arsitektur ITB.

Wawancara dengan Prof. Ir. Slamet Wirasonjaya, 13 November 2010.

Sakri, Adjat. Membangun Jantung Sang Ganesha. Juli 1989. Buletin Alumni ITB.

http://samanui.wordpress.com/2009/06/02/perpustakaan-baru-universitas-indonesia/

http://www.anakui.com/2009/06/03/perpustakaan-baru-ui-sekedar-kebutuhan-atau-prestise-belaka/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: