Buah Pikiran Para Perancang Masa Depan

Arkeologi, Arsitektur, dan Manusia

In Wahyu Pratomo on October 16, 2011 at 12:48 pm

Wahyu Pratomo

Saya tidak pandai menulis, tapi saya bisa bertanya.

Haruskah ada pembangunan di sekitar Candi Borobudur? Bagaimana dengan Parthenon yang berada di kawasan urban? Qutub Minar, Karameikos, Teotihuacan, dan Chichen Itza?

Mari kita mulai.

Heritage dan arkeologi adalah dua hal yang berbeda. Arkeologi bukan hanya sekedar kata benda ataupun kata sifat. Arkeologi adalah sebuah nilai. Sejarah, budaya, sosial dan ketiga nilai lainnya. Di mana reruntuhan adalah buku cerita, pahatan adalah pelajaran masa lampau, dan puing-puing adalah puisi yang belum tuntas. Bagi saya, manusia juga merupakan peninggalan arkeologi, yang paling hakiki tentunya.

Mendesain pada ring kawasan arkeologi bukan hal yang mudah, tapi bukan hal yang sulit pula. Bayangkan saja, sebuah intervensi baru di tengah bentukan yang begitu dipuja-puja. Terasa begitu berat dan sangat beresiko. Peraturan membangun menjelma menjadi momok tersendiri. Tapi, jika kita balik kalimatnya maka akan nampak seperti ‘welcoming statement’.

Ahmad Tardiyana mengajarkan saya bahwa dalam mendesain cukup dibutuhkan dua pemikiran; ‘apa yang seharusnya’ dan ‘apa yang dibutuhkan’. Dengan itu, guideline sudah mampu terbentuk dengan sendirinya. Lalu apa? Intinya sederhana, arsitektur adalah bentuk penghormatan kepada arkeologi itu sendiri. Barang tentu, bumi, adalah perantara keduanya. Dari sini, mengertilah kita bahwa bentuk bukan lagi yang utama, green tak lagi menjadi isu, tapi apa yang ada di dalam tanah adalah tuntutan terbesar.

Ingat kasus pendirian museum di Trowulan? Ya, itu sedikit cerita saja. Kita tidak pernah tahu persebaran titik arkeologi secara tepat, sehingga resiko saat penggalian begitu besar. Oleh karenanya, cara terbaik adalah memperkecil titik sentuh ke tanah, sampai ditemukan teknologi arsitektur yang tidak menyentuh bumi.

Lebih dari itu, saya ingin sekali tahu, bagaimana sepatutnya, bukan seharusnya, arsitektur mampu berdialog dengan  situs arkeologi. Tentu tidak akan bisa ada satu kesimpulan, karena arkeologi itu unik, begitu pula respon terhadapnya. Mampukah arsitektur menjadi bagian erat dari arkeologi? Sehingga arsitektur bukan lagi bentukan, tetapi sebuah NILAI.

Saya juga tidak pernah berpikir bahwa saat ini saya begitu menggemari karya arkeologi.

Semoga tulisan ini bukan yang terakhir.

21 Juli 2011.

  1. “Saya tidak pandai menulis, tapi saya bisa bertanya.” –Wahyu Pratomo di https://arsitekturbicara.wordpress.com/2011/10/16/arkeologi-arsitektur-dan-manusia/

    dear wahyu,

    dengan menulis begini saja, anda sudah menunjukkan bahwa anda pandai mengambil atensi, dan dengan begitu anda pandai menjadikan tulisan anda (seminim apapun teknik yang anda kuasai) sebagai sesuatu yang mungkin belum tentu benar (dalam perbandingan benar-salah dan baik-buruk) menjadi baik. dan begitulah sebaiknya sebuai esai (opini) dibuat.

    komen selanjutnya (karena terlalu panjang, bisa dibaca di sini http://blabbermouthdisease.tumblr.com/post/11645617999/punch-line-punch-attract

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: