Buah Pikiran Para Perancang Masa Depan

Makna Ruang Publik, Alun-alun, dan Gasibu Bandung

In Septi Maulidyah on October 8, 2011 at 10:12 am

Septi Maulidyah

Di tengah hiruk pikuk kota dengan tuntutan kehidupan dan perasaan individualistik yang tinggi, tentunya manusia di dalamnya tidak menyangkal sebuah pernyataan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup seorang diri. Di tengah nilai kehidupan privat dan publik yang bertentangan ini, tentunya di dalam kota terbentuk ruang-ruang yang menyeimbangkan kedua kehidupan tersebut. Ruang publik kota merupakan sebuah oase untuk penatnya kehidupan kota dengan permasalahan yang tidak pernah berhenti.

Sebagai tempat yang memberikan suasana peralihan baru yang memberikan perasaan rileks baik fisik dan psikologis, maka perkembangan ruang publik perlu diperhatikan. Terdapat nilai-nilai penting yang tercipta dalam perspektif perkembangan sebuah ruang publik, yaitu sebagai tempat yang responsif, demokratis, dan bermakna.

Ruang yang responsif adalah yang memenuhi kebutuhan penggunanya, di antaranya untuk kenyamanan, relaksasi, aktivitas, pertemuan, kontak visual dan fisik dengan alam dan manusia. Ruang yang demokratis yang dimaksud adalah untuk melindungi hak-hak kelompok pengguna. Ruang publik seharusnya dapat diakses siapa saja, kapan saja, dan di bagian mana saja karena sifatnya yang berfungsi untuk masyarakat umum.Yang terakhir, ruang yang bermakna, adalah ruang yang membuat orang-orang memiliki hubungan kuat antara tempat itu sendiri, kehidupan pribadi tiap individu di dalamnya, dan juga memberikan suasana dalam lingkup kehidupan yang lebih luas. Hubungan tersebut bisa berupa pandangan masa lalu dan masa depan masing-masing individu atau kelompok tertentu, atau dalam konteks sejarah atau budaya, kenyataan biologis dan psikologis, bahkan di luar dunia itu sendiri. Sebuah ruang publik yang digunakan terus-menerus dengan memori yang terdapat di dalamnya dapat membuat perubahan yang perlahan menjadi lebih sakral untuk komunitas yang terbentuk di dalamnya.

Kota Bandung, sebagai kota yang secara terencana dirancang oleh pemerintahan Belanda, tentu telah memiliki pertimbangan besar terhadap konsep ruang publik terbuka ini. Tata kota Bandung yang dirancang pada 1825 menerapkan konsep kota tradisional Jawa, di mana alun-alun menjadi pusat kota. Di sebelah selatan terdapat pendopo atau kediaman raja atau kepala pemerintahan, sementara di sisi barat terdapat masjid, dan di sisi utara terdapat balai kota. Di depan balai kota, terbentang Jalan Raya Pos ke arah Timur dan Barat dengan dibatasi kacakaca (gerbang kota). Di lingkar kedua terdapat rumah tumenggung (setingkat bupati) ke arah Timur alun-alun, rumah aria (patih/penasehat tumenggung) ke arah Barat Daya, serta penjara dan loji (gudang) ke arah Utara alun-alun. Alun-alun Bandung sendiri dibangun sekitar tahun 1811 setelah pemindahan ibukota dari Krapyak ke Cikapundung setahun sebelumnya untuk membendung serangan Inggris. Sebagai ruang publik di tengah pusat kota, alun-alun menjadi tempat yang memiliki simbol kewibawaan, kekuasaan pemerintah, dan pusat kebudayaan kota Bandung pada zamannya. Namun pada kenyataannya, di masa kini Alun-alun mengalami pergeseran makna seiring dengan perubahan yang terjadi secara mendasar pada perkembangan masyarakat di dalamnya.

Dalam sebuah ruang, khususnya ruang publik di mana orang-orang berkumpul dan berkegiatan, terdapat definisi batas yang secara jelas memberikan orientasi dan makna penting dalam ruang tersebut. Batas sebuah ruang baik fisik dan nonfisik ini tentunya memberikan pengaruh yang sangat besar pada ruang tersebut dalam penciptaan suasananya. Seperti yang telah diketahui, Alun-alun Bandung kini dikelilingi oleh bangunan komersial seperti pusat perbelanjaan dan bank yang secara fisik cukup menarik perhatian dengan ketinggian dan fasad bangunannya. Walaupun terdapat menara masjid yang dapat menjadi ikon dibandingkan bangunan di sekitarnya, suasana komersialitas yang tercipta dalam ruang yang dibatasi bangunan komersial memberikan pengaruh besar. Kegiatan yang paling menonjol, khususnya jual-beli dan makan, memiliki nilai yang lebih profan dibandingkan Alun-alun sehingga mengurangi nilai sakral pusat kota. Walaupun terdapat fungsi religius di dalam masjid, suasana komersil–khususnya dengan banyaknya pedagang kaki lima dengan pengaturan yang tidak terencana dengan baik–mengurangi kesakralan sebuah alun-alun. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya di mana alun-alun dikhususkan sebagai pusat budaya dan kekuasaan pemerintah dengan suasana yang lebih formal, kini alun-alun berkembang menjadi lebih informal dan komersial walaupun kegiatan keagamaan juga sering diadakan.

Salah satu hal yang mengganggu dari ruang publik ini adalah aksesibilitas yang kurang baik karena tertutupi oleh keberadaan pedagang kaki lima, padahal salah satu syarat ruang terbuka publik adalah kemudahan aksesibilitas yang bisa dicapai siapa saja. Pedagang kaki lima sebenarnya bukan masalah utama karena kegiatan ekonomi dapat menciptakan kehidupan dalam ruang publik yang lebih positif. Bahkan dengan adanya dorongan kegiatan ekonomi, Alun-alun menjadi tempat yang dapat diakses 24 jam dan mendorong banyak orang berdatangan. Dorongan positif ini membuktikan kekuatan ekonomi sebagai salah satu kegiatan yang mampu memberikan interaksi sosial yang lebih baik dan bermanfaat, namun yang menjadi persoalan adalah penataan pedagang kaki lima yang seharusnya dapat mempermudah akses masuk menuju alun-alun.

Keberadaan pedagang kaki lima yang mengganggu wajah ruang publik

Selain aksesibilitas yang kurang diperhatikan, elemen lanskap yang seharusnya menjadi bagian dalam ruang publik yang dapat diakses atau digunakan leluasa oleh masyarakat umum, kurang didesain dengan baik juga. Selain tempat duduk, tidak ada elemen lanskap yang memiliki desain yang interaktif–hanya sebagai hiasan saja. Bahkan salah satu elemen lanskap di tengah ruang publik memberikan kesan ekslusif dengan bentuknya yang lebih besar dan monumental dan tidak memberikan ruang untuk publik dan terkesan berdiri sendiri.

Satu-satunya elemen lanskap yang fungsional

Monumentalitas dalam ruang publik cenderung ekslusif dan menyendiri

Berbeda dengan Alun-alun yang telah dibangun sejak zaman kolonial Belanda, lapangan Gasibu sebagai ruang publik terbuka merupakan lapangan sepakbola yang dibangun sekitar tahun 1955. Lapangan ini dulunya terletak di Jalan Badaksinga dan dipindahkan ke depan Gedung Sate karena akan dibangun proyek air minum bersih di lokasi sebelumnya. Dibangun secara gotong royong oleh para pecinta sepak bola, lapangan tersebut kemudian diberi nama Gasibu (Gabungan Sepakbola Indonesia Bandung Utara). Memang dapat dikatakan ruang publik ini baru dan tidak memiliki nilai historis sekuat alun-alun, tetapi lapangan Gasibu merupakan ruang publik dengan perubahan yang jauh berbeda dengan alun-alun yang memberikan pandangan baru bagi masyarakat dalam ruang publik kota.

Lapangan Gasibu merupakan ruang publik yang memiliki kesatuan dengan Taman Monumen Perjuangan Jawa Barat yang membentang dari Selatan ke Utara. Bahkan dengan adanya Gedung Sate yang terletak di depan lapangan Gasibu, ruang publik ini memberikan kesan formal yang kuat dengan orientasi yang jelas dibandingkan alun-alun. Walaupun memberikan kesan formal, lapangan Gasibu yang mewadahi kegiatan olahraga ini tidak menjadi sebuah ruang yang formal. Bahkan secara lokasi, ruang publik ini menguntungkan karena dengan letaknya yang terdapat di depan simbol kota Bandung, lapangan Gasibu dapat dikenal lebih luas dan menguntungkan penyelenggaraan acara di ruang publik ini.

Seperti yang diketahui banyak orang, lapangan Gasibu tidak hanya mewadahi kegiatan olahraga, tetapi juga kegiatan besar seperti upacara keagamaan, pentas budaya, dan lain-lainnya yang secara keseluruhan mampu menarik banyak orang berdatangan yang dapat menguntungkan tidak hanya pihak penyelenggara tetapi juga pengguna. Bahkan tiap hari Minggu terdapat pasar tumpah yang menjalar hingga ke taman Monumen Perjuangan Jawa Barat. Fenomena ini menjadi ciri khas lain dalam lapangan Gasibu sebagai ruang publik yang lebih dikenal tidak hanya masyarakat dalam Bandung sendiri tetapi juga di luar Bandung. Dengan banyaknya kegiatan yang mampu diwadahi di lapangan Gasibu, sebagai ruang publik kota, tempat ini berhasil menjadi ruang yang responsif terhadap hampir semua lapisan masyarakat di kota Bandung dan memberikan pemaknaan lebih terutama sebagai oase di tengah kota.

Berbeda dengan alun-alun dengan penataan pedagang kaki lima yang tidak terancang dengan baik sehingga mengganggu akses masuk pengunjung, lapangan Gasibu tetap memberikan kemudahan aksesibilitas walaupun terdapat banyak pedagang kaki lima. Dengan desain tangga yang lebar di dekat jalan besar sebagai akses masuk, ruang publik ini memberikan keleluasaan dan kemudahan pada penggunanya.

Elemen lanskap lain seperti tempat duduk juga menunjang walaupun fungsi gazebo kurang terawat dan menjadi tempat khusus untuk tunawisma. Penghijauan juga dimanfaatkan secara baik dengan adanya vegetasi pohon besar di sekelilingnya sehingga cukup memberikan iklim mikro yang memberikan kenyamanan di lapangan tersebut. Ruang yang lebih mementingkan lapangan yang luas ini menguntungkan untuk menyelenggarakan acara secara outdoor.

Desain tangga yang lebar untuk kesan keterbukaan pada pengguna

Penempatan parkir dan pedagang kaki lima yang diatur di tepi lapangan

Tempat duduk dan vegetasi pohon untuk kenyamanan dalam skala mikro

Jika dibandingkan, baik alun-alun maupun lapangan Gasibu memiliki makna ruang tersendiri untuk masyarakat di pusat kota. Alun-alun sebagai pusat keagamaan dan komersial yang bertentangan merupakan perubahan besar yang menjadikan ruang publik di alun-alun sebagai tempat yang jauh berbeda fungsinya dibandingkan fungsi sebelumnya. Sayangnya, perubahan ini tidak diikuti dengan perancangan yang baik, seperti penataan pedagang kaki lima, aksesibilitas yang tidak terjangkau dan kebersihan yang tidak dijaga dengan baik. Akhirnya, walaupun sama-sama menjadi pusat kota dengan lapangan Gasibu, alun-alun kurang berhasil membangun makna baru yang lebih berarti dibandingkan masa sebelumnya karena kurang mewadahi kegiatan secara responsif dan demokratis.

Berbeda dalam segi fungsi, lapangan Gasibu merupakan pusat budaya dan olahraga sekaligus komersial yang menjadi refleksi dari alun-alun masa lalu sebagai pusat budaya sekaligus kekuasaan pemerintah. Terletak di depan simbol pemerintahan justru memberikan citra baru untuk Gedung Sate yang memberikan kesan keterbukaan dan mewadahi hampir semua kegiatan masyarakat sehingga berhasil menciptakan ruang responsif, demokratis, dan bermakna untuk masyarakat kota Bandung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: