Buah Pikiran Para Perancang Masa Depan

Cerita di Balik Bentuk

In Susan Hanuningrum Krisanti on September 17, 2011 at 8:48 am

Susan Hanuningrum Krisanti

Tak banyak yang bisa kita ketahui dari benda fisik yang hadir di sekitar kita. Mengapa suatu benda berbentuk seperti itu? Apa ia terbentuk dengan sendirinya hingga akhirnya berbentuk seperti itu? Apa ia memiliki alasan-alasan yang disengaja sehingga berbentuk seperti itu? Bangunan–yang juga termasuk sebuah benda–tak terbentuk dengan sendirinya, ia dirancang. Entah itu seseorang yang memiliki pengetahuan merancang bangunan yang cukup ataupun tidak, perancang bangunan itu adalah arsiteknya.

Tak berbeda dengan bangunan Neo Calista, sebuah café yang dirancang oleh Baskoro Tedjo, yang terletak di Jalan Bukit Pakar Timur IV. Neo Calista tentunya dirancang terlebih dahulu sebelum terbentuk bentuk fisik seperti adanya sekarang. Namun, bentuk fisik yang ada tak menceritakan banyak tentang maksud yang ingin diungkapkan oleh arsiteknya. Bahkan mungkin bentuk fisik tersebut tak memberi penjelasan yang tepat sedikitpun mengenai hal itu. Begitupun saat saya mengetahui tentang konsep-konsep perancangan Neo Calista dari Pak Baskoro. Banyak hal yang tak terbayangkan sebelumnya.

“Merancang Neo Calista itu bagaimana menciptakan suatu tempat yang nyaman,” tutur Baskoro Tedjo. Berada di dataran tinggi membuat lokasi ini memiliki udara yang nyaman. Langit di daerah ini juga seringkali berawan hingga langit siang hari tak begitu menyengat. Selain berada di ketinggian, bangunan ini juga berada di ujung tebing bersebelahan dengan lembah yang membuatnya memiliki pemandangan yang indah. Arsiteknya tentu harus merespon hal ini. Bukaan berupa pintu dan kaca yang amat lebar mempersilahkan kebaikan dari luar berupa kesejukan dan sinar hangat untuk masuk dan menyapa para pengguna bangunan.

Pemandangan malam Kota Bandung dari Bangunan

“Saya memaksimalkan view disana,” tuturnya. Pendekatan kontekstual yang ia terapkan adalah dengan memasukkan pemandangan kota Bandung ke dalam bangunan. Pengguna bangunan bisa menikmati indahnya alam sekitar dari bukaan kaca yang sangat lebar hingga dimanapun pengunjung duduk, akan tetap bisa melihatnya. Fasad kaca tak hanya digunakan di bagian belakang yang menghadap pemandangan, namun di fasad bagian depan bangunan. Pemandangan indah kota Bandung pun bisa terlihat menembus bangunan, sehingga dari pintu masuk pun sudah bisa terlihat.

Tak hanya melalui kaca-kaca besar para pengguna bangunan dapat melihat view indah kota Bandung yang akan mengeluarkan kerlap-kerlip cahaya indah ketika malam hari, namun penyediaan balkon yang cukup lebar pun dihadirkan. Penggunaan balkon dan dinding transparan sebagai fasad yang menghadap pemandangan indah sangat tepat untuk memfasilitasi pengguna dalam menikmati pemandangan meskipun membuat bangunan memerlukan perawatan yang ekstra untuk menjaganya tetap indah karena mudahnya terekspos oleh panas dan hujan.

Menikmati pemandangan dari balkon

“Saya menerapkan flexibility of seat arrangement,” katanya. Flexibility of seat arrangement menurut beliau sesuai untuk diterapkan dalam sebuah café untuk membuat pengunjung memiliki kebebasan dalam memilih posisi duduk yang diinginkan. Kursi dan meja dapat disusun dengan ruang gerak yang cukup bebas, bisa menghadap kemanapun dan bisa berada dimanapun sesuai keinginan sang pengguna. Untuk mendukung hal ini, Baskoro membuat denah yang open layout dengan sedikit sekali penggunaan dinding dan tanpa furniture yang tetap posisinya.

Penataan kursi yang fleksibel (sumber: Griya Asri)

“Selain itu, saya menggunakan konsep modern. Transparan itu modern.” Modern dalam pandangan Baskoro Tedjo adalah dengan penggunaan bidang kaca yang luas dan atap datar. Solusi terhadap tema modern berupa bidang kaca dan atap datar sering ia terapkan dalam karya-karyanya yang lain, seperti Selasar Sunaryo dan Campus Centre. Penggunaan atap datar dan pendeknya overstack membuat bangunan ini terasa berbeda. Selain itu, bidang horizontal dan vertikal yang kuat menambah kesan modern bangunan ini.

Konsep modern yang tercermin lewat fasad

“Saya mensurvei tempat-tempat sejenis untuk mempelajari bagaimana restoran yang laku.” Restoran yang laku, biasanya menerapkan konsep yang berbeda atau modern. Modern seringkali dianggap oleh orang awan identik dengan sesuatu yang berbeda dari yang biasa ataupun yang tradisional. Konsep modern yang dijawantahkan melalui transparansi dan atap datar membuat bangunan ini seakan berteriak dan tak menghiraukan bangunan lainnya di sekitarnya. Namun, itulah yang memang sang arsitek ingin wujudkan, yaitu sesuatu yang berbeda dan menarik.

“Yang menjadi kliennya adalah kaum muda kaya etnis China.” Perilaku pengguna adalah pendekatan utama yang dipilih oleh sang arsitek, Baskoro Tedjo, untuk menyelesaikan isu perancangan. Beliau mencoba mendalami seperti apa karakter target pasar ini dan menurut beliau muda kaya etnis China adalah kaum yang suka memperlihatkan diri dan bergaya hidup modern. Begitulah hasil analisis Baskoro.

“Intinya adalah bagaimana menghadirkan high visual exposure dan high visual access. Saya membuat tangga di tengah dan menggunakan split level,” tegas sang arsitek. Memperlihatkan diri dapat diwujudkan dengan dua konsep tersebut. Lalu beliau menjelaskan bagaimana teori mengenai high visual exposure dan high visual access.

Visual exposure

Visual exposure yang dimaksud dalam hal ini adalah bagaimana sesuatu titik dalam ruang dapat dilihat dari berbagai sudut penglihatan lainnya. Bila terdapat banyak sudut penglihatan yang bisa melihat titik ini, maka titik ini memiliki high visual exposure. Sedangkan visual access yang dimaksud disini adalah kemampuan sesuatu titik dalam ruang dapat melihat berbagai sudut penglihatan lainnya. Bila dalam satu titik dapat melihat banyak sudut penglihatan lainnya, maka titik ini  memiliki high visual access.

Sebuah tempat yang strategis untuk membuat orang merasa terlihat oleh banyak orang dihadirkan oleh sang arsitek dengan penggunaan tangga melingkar yang berada di tengah ruang. Ukuran yang cukup lebar mempertegas posisi pentingnya tangga ini sebagai hal utama dalam Neo Calista. Tangga ini berada di tengah-tengah batas antara lantai bangunan sayap kanan dan kiri dengan perbedaan ketinggian setengah lantai atau split level. Oleh karena itu, tangga ini bisa terlihat dari semua lantai  yang berbeda ketinggian dan dari berbagai sudut ruangan.

Tangga melingkar dengan high visual exposure

Tangga yang dilengkapi dengan lampu pada sisi pijakannya ini berfungsi seperti panggung atau red carpet atau runway untuk catwalk yang bisa membuat penggunanya menjadi pusat perhatian. Material yang dipilih sebagai lantai pada tangga adalah kaca yang memantulkan cahaya lampu. Ketika malam tiba, lampu-lampu ini akan menyala dan menambah nuansa spesial pada tangga ini hingga yang menaikinya merasa berada dalam spotlight bagai seorang artis. Kemudahan orang dalam melihat tangga ini dan kesan spesial yang dihasilkan membuat konsep high visual exposure tercapai dan memudahkan orang untuk memperlihatkan diri.

Konsep high visual exposure yang diaplikasikan melalui tangga

Ruangan-ruangan di dalam bangunan yang ingin diwujudkan oleh sang arsitek adalah ruang yang memiliki high visual access. Ruang dengan high visual access berarti memfasilitasi seseorang agar dapat melihat sebanyak-banyaknya orang lain. Maka, konsep split level menjadi pilihan yang  diterapkan oleh Baskoro Tedjo. Beliau pun menggambarkan bagaimana konsepnya bisa mewujudkan high visual access.

Konsep high visual access yang diaplikasikan melalui lantai split level

Split level menghubungkan satu ruang dengan ruang lainnya dengan memungkinkan orang melihat orang lain pada ketinggian yang berbeda. Split level yang diterapkan memudahkan dalam menciptakan sebuah gabungan ruang yang mengalir dan serasa luas dalam pandangan mata. Dengan demikian, ruangan-ruangan di dalam bangunan ini memiliki high visual access.

Tangga melingkar dengan high visual exposure

Konsep pemecahan penghasil high visual access dan high visual exposure ini berhasil tercapai namun tak disadari oleh pengunjung pada umumnya seperti saya sendiri. Pengunjung akan merasakan efeknya saja. Ketika menaiki tangga akan merasa banyak pasang mata yang bisa melihat dan ketika duduk akan bisa memandang banyak orang dan juga pemandangan.

“Dahulu di Pecinaan, para penghuninya menggunakan kaca patri pada fasad yang menandakan kekayaan,” ucap Pak Baskoro Tedjo. Beliau mengambil bentuk dari sejarah kaum yang menjadi target pengguna bangunannya untuk diaplikasikan. Di daerah pecinaan kota Bandung dahulu, terdapat sebuah hotel yang dihiasi kaca patri dengan pola warna hijau, ungu, dan kuning. Hal ini diwujudkan dalam desain fasade berupa kaca menerus setinggi dua lantai dengan beberapa persegi beraneka warna. Warna yang beliau gunakan bukanlah warna hijau ungu dan kuning, tetapi warna-warna primer, yaitu merah, biru dan kuning.

Fasad kaca seperti lukisan Piet Mondrian

Kaca-kaca persegi berwarna merah, biru, dan kuning ternyata membawa pesan yang berbeda di mata pengunjung. Pada kenyataanya fasade ini malah mengingatkan beberapa orang pada lukisan milik Piet Mondrian di zaman D’stijl. Namun, tak semua orang akan mengenalinya dan perancangnya pun tak mau disinggung mengenai kesamaan fasad dengan lukisan tersebut.

Pendekatan utama yang arsitek gunakan berupa pendekatan perilaku target pengguna bangunan. Hal ini memang baik karena sangat memperhatikan karakteristik penggunanya, namun pengkhususan perlakuan pada satu target utama akan hanya dapat dirasakan oleh pengguna yang spesifik pula. Pengguna Neo Calista tak hanya kaum muda etnis China, namun banyak pengguna lainnya yang tentu takkan begitu merasakan ‘perhatian’ sang arsitek. Neo Calista sekarang berubah kepemilikannya dan berubah namanya menjadi Warung Pasta @Calista. Ini artinya ada perubahan dalam target pasar restoran ini dan tidak lagi berorientasi pada kaum muda kaya etnis China.

Neo calista yang berganti pengelola menjadi Warung Pasta

Banyak pesan perancang yang tak tersampaikan dengan hanya melihat bentuk fisik hasil rancangan. Tujuan perancangannya yang langsung disampaikan oleh seorang arsitek dapat merupakan hal yang sama sekali tak terpikirkan oleh pengamat yang hanya melihat benda fisiknya saja. Begitu pulalah semua hal yang terdapat dalam alam ini, ada tujuan perancangan yang tak tersampaikan hanya dengan melihat bentuk fisik hasil rancangan-Nya. Untuk mengetahuinya, kita harus mencari dan memikirkanya lebih dalam.

***

Sumber foto:

1. Griya Asri

2. http://www.facebook.com/media/set/?set=a.131229313559621.25534.124992287516657#!/group.php?gid=81275087978

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: