Buah Pikiran Para Perancang Masa Depan

Ini Bandung, Bukan Parisj Bung!

In Isan Najmi on September 10, 2011 at 9:53 am

Isan Najmi

Arsitektur merupakan wujud dari kemajuan peradaban. Karena itu kehadiran karya arsitektur tidak dapat dilepaskan dari faktor-faktor sosial dan budaya serta konteks di mana karya arsitektur didirikan. Seperti munculnya arsitektur modern di Eropa karena industrialisasi, bentuk candi di Indonesia yang mirip dengan tipologi candi di India, dan arsitektur kolonial di kota Bandung.

Penjajahan Belanda di Indonesia pun memberikan sebuah “kenang-kenangan” yang berwujud karya arsitektur kolonial di kota-kota kolonial di Indonesia. Bandung merupakan salah satu dari kota yang memiliki banyak karya arsitektur kolonial. Keberadaan karya-karya tersebut menunjukkan bahwa kota Bandung pernah menjadi pusat kegiatan kolonial di masanya dan menjadi bagian penting dari sejarah kolonial di Indonesia. Selain itu terjadi pula akulturasi budaya yang harmonis dalam karya-karya arsitektur Indo-Eropa.

Era Kolonial di Kota Bandung

Pasca pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda pada  tanggal 29 Desember 1949, hampir seperempat juta  Indische-Netherlanders[1] kembali ke negeri Belanda[2]. Saat itu Warga Belanda yang hidup di Indonesia tersebut hidup dalam koloni-koloni yang  berdesakan di tengah kota Den Haag, perubahan gaya hidup Indische-Netherlanders tidak dapat dielakkan.

Terlepas dari kondisi kota Bandung di abad ke-21 ini, seabad yang lalu Bandung pernah menjadi kota yang sangat humanis dan estetis. Selain dirancang sebagai ibukota Hindia Belanda, Kota Bandung juga dirancang sebagai tempat peristirahatan bagi Masyarakat Eropa yang tinggal di Hindia Belanda. Sehingga banyak sekali orang Belanda yang lahir dan besar di Bandung dan berinteraksi dengan masyarakat lokal. Interaksi tersebut menghasilkan sebuah kebudayaan yang baru dan tercermin dalam wujud arsitektur Kota Bandung.

Bandung di abad ke 19 adalah sebuah kota kecil di kawasan cekungan purba yang jauh dari akses keramaian kota. Kota Bandung dikelilingi oleh hutan lebat pegunungan tinggi yang tanahnya subur. Potensi itu disambut cukup positif oleh para tuan tanah, sehingga Bandung pun dikembangkan menjadi lokasi perkebunan yang strategis.

Pembukaan perkebunan pada wilayah ini menjadi sebuah titik tolak yang menjadikan pembangunan kota Bandung semakin pesat. Selain itu dibangunnya stasiun kereta api pada akhir abad 19, menghubungkan Bandung-Batavia dan Bandung-Jogjakarta-Surabaya, meningkatkan akselerasi pembangunan. Kemudahan akses keluar dan ke dalam kota Bandung membuat arus orang yang masuk ke kota ini meningkat pula. Terutama orang-orang dari Eropa. Hingga akhirnya terjadi ledakan penduduk di kota Bandung pada tahun 1910-1920 sebesar lima kali lipat. Penduduk Eropa yang pada awalnya hanya 2.815 jiwa meningkat menjadi 11.000 jiwa.[3]

Masyarakat Eropa yang berdatangan ke kota Bandung membutuhkan banyak infrastruktur penunjang. Kebutuhan utama yang harus terpenuhi adalah rumah tinggal dan pusat kegiatan. Karena itu dibangunlah berbagai infrastruktur di kota Bandung yang pada awalnya diwarnai oleh dominasi arsitektur Eropa.

Sejak menguatnya pengaruh Belanda di Pulau Jawa pada awal abad ke-20, kebudayaan lokal di Pulau Jawa perlahan memudar. Di bidang arsitektur, budaya tradisional Jawa semakin memudar. Pudarnya budaya bertukang dilihat dari jarangnya tukang tradisional dan menguatnya budaya membangun Eropa. Di masa itu kuda-kuda segitiga mulai banyak digunakan menggantikan atap joglo.

Arsitektur dengan gaya Eropa pun turut melanda kota Bandung. Terlebih lagi pertumbuhan penduduk Eropa di kota Bandung meningkat pesat di masa tersebut. Beberapa contoh gaya arsitektur Eropa yang berkembang di kota Bandung antara lain: Indische Stijl (gedung Polres Jl. Merdeka), Romantiek Klasiek (Gedung Keuangan Kodam dan Kodiklat AD),  berpuluh gedung dengan gaya art Nouveau dan Art Deco (Bank BTPN, villa Isola). Tak hanya bangunan, pengaruh arsitektur Eropa juga memengaruhi rancangan kota Bandung. Kemajuan pesat ini diapresiasi dalam pemilihan kota Bandung sebagai kota yang menjadi prototype Kota Kolonial (Kolonial Stad), di samping kota Hiderabad di India. Hal ini tentu saja menjadi sebuah kebanggan bagi kota Bandung yang dulunya merupakan kota yang sangat terpencil.

Sebutan yang disandang oleh Kota Bandung sebagai Kolonial Stad berasal dari Hendrik Berlage, yang merupakan master builder dari Belanda. Pendapat ini berdasarkan surveynya pada kota Bandung pada saat pembangunan masterplan Gedung Sate, Taman Lalu Lintas, dan kawasan Bandung Utara yang akan dijadikan pusat kegiatan masyarakat Eropa di masa itu. Melihat masterplan yang ada, maka sangat pantas kota Bandung mendapat sebutan Kolonial Stad.

Selain memuji keapikan penataan Kota Bandung layaknya Kolonial Stad, Berlage juga mengkritik bangunan karya arsitek Eropa dengan gaya Eropa. Menurut Berlage, bangunan tersebut terlalu menjiplak dari daerah asalnya. Hal itu membuat bangunan menjadi kurang kontekstual dengan kota Bandung yang merupakan kota di daerah tropis dan memiliki kearifannya sendiri.

Kritik ini memancing dan menguatkan kritik-kritik lain tentang arsitektur modern di Indonesia yang seharusnya menunjukkan ciri khas Indonesia. Sebelumnya pun telah banyak arsitek Belanda seperti Maclaine Pont, J. Gerber, dan Thomas Karsten yang memiliki pemikiran tentang harmonisasi arsitektur Eropa dan arsitektur Nusantara yang menjunjung nilai-nilai kearifan lokal. Pemikiran untuk membaurkan arsitektur Eropa dan Nusantara terus bergulir, sehingga banyak kita temui bangunan dengan gaya tersebut yang dibangun setelah  tahun 1920. Gedung sate dan Aula Barat-Timur ITB merupakan contoh karya arsitektur yang menunjukkan eksistensi pemikiran tersebut.

Gedung Sate: Monumentalisme Arsitektur Indo-Eropa

Nuansa Indo-Eropa yang kental pada gedung Sate (Foto oleh: Rendy Maulana)

Arsitektur kolonial di Indonesia pada dasarnya merupakan bagian integral dari sejarah perkembangan arsitektur Indonesia. Walaupun tidak berasal dari negeri sendiri, arsitektur ini memiliki  hubungan yang erat dengan modernsasi arsitektur di Indonesia. Pada tahun 1920 dan 1930-an, muncul istilah “Indo European Style” (arsitektur gaya Indo-Eropa) di Hindia Belanda (sebutan untuk Indonesia waktu itu). Istilah ini ditujukan pada bangunan yang mempunyai bentuk (atau kesan luarnya) perpaduan antara arsitektur Nusantara dan arsitektur modern yang disesuaikan dengan iklim, bahan bangunan, serta teknologi yang berkembang waktu itu.

Mulai dibangun pada tahun 1920, Gedung Sate masih berdiri kokoh hingga kini. Gedung ini merupakan ciri khas dari gaya arsitektur Indo-Eropa yang berkembang di awal abad ke-20. Gedung Sate yang pada masa Hindia Belanda itu disebut Gouvernements Bedrijven (GB), peletakan batu pertama dilakukan oleh Johanna Catherina Coops, puteri sulung Walikota Bandung, B. Coops dan Petronella Roelofsen, mewakili Gubernur Jenderal di Batavia, J.P. Graaf van Limburg Stirum.

Gedung Sate merupakan hasil perencanaan sebuah tim yang terdiri dari Ir. J. Gerber, arsitek muda kenamaan lulusan Fakultas Teknik Delft Nederland, Ir. Eh. De Roo dan Ir. G. Hendriks. Pembangunannya mendapat sponsor dari pihak Gemeente van Bandoeng, diketuai Kol. Pur. VL. Slors dengan melibatkan 2000 pekerja, 150 orang diantaranya pemahat, atau ahli bongpay pengukir batu nisan dan pengukir kayu berkebangsaan Cina yang berasal dari Konghu atau Kanton, dibantu tukang batu, kuli aduk dan peladen yang berasal dari penduduk Kampung Sekeloa, Kampung Coblong Dago, Kampung Gandok dan Kampung Cibarengkok, yang sebelumnya mereka menggarap Gedong Sirap (Kampus ITB) dan Gedong Papak (Balai Kota Bandung). Pada puncak atap Gedung Sate terdapat enam buah sate, yang melambangkan enam juta Gulden dana yang dialokasikan oleh Gemeente untuk membangunnya.

Kesan monumental yang ditunjukkan oleh Gedung Sate telah diakui oleh banyak pihak. Beberapa pendapat tentang megahnya Gedung Sate diantaranya Cor Pashier dan Jan Wittenberg, dua arsitek Belanda yang mengatakan “langgam arsitektur Gedung Sate adalah gaya hasil eksperimen sang arsitek yang mengarah pada bentuk gaya arsitektur Indo-Eropa”. Selain itu D. Ruhl dalam bukunya Bandoeng en haar Hoogvlakte 1952, “Gedung Sate adalah bangunan terindah di Indonesia”. Sedangkan Ir. H. P. Berlage, sewaktu kunjungan ke Gedung Sate April 1923, menyatakan, “Gedung Sate adalah suatu karya arsitektur besar, yang berhasil memadukan langgam timur dan barat secara harmonis”.

Aula Barat dan Aula Timur ITB

Nuansa Indo-Eropa yang kental pada Aula Barat dan Timur ITB (Foto oleh: Rhino Fieldianto)

Ketika memasuki kompleks Kampus ITB melalui Gerbang Ganesha, hal pertama yang paling menarik perhatian adalah keberadaan dua bangunan kembar yang mengapit Kampus ITB dan Gunung Tangkuban Perahu secara simetris. Kedua bangunan tersebut adalah Aula Barat dan Aula Timur. Bangunan tersebut memiliki bentuk yang sangat eksotis dengan gaya eklektis, sepintas seperti bangunan dengan gaya Nusantara, namun juga seperti bangunan di Eropa dengan perulangan kolom-kolom batu yang kuat.

Karya yang dirancang oleh arsitek Belanda, Maclaine Pont, ini pada awalnya dimulai dengan mengkaji sistem konstruksi bangunan di Jawa, kemudian mengajukan pendapatnya sendiri tentang sistem konstruksi tersebut sesuai nilai-nilai teknologi modern. Berdasarkan telaah ini, kemudian Pont menjelajahi kemungkinan mengembangkan sistem konstruksi Jawa untuk mengakomodasikan fungsi-fungsi bangunan baru, skala aktivitas baru, dan metode produksi baru. Henry Maclaine Pont mengkombinasikan unsur-unsur tradisional (dekorasi dan konstruksi) dengan arsitektur kolonial (Belanda/Eropa) berbahan kayu, batu-bata, dan batu alam. Seakan-akan menjadi wadah penerjemahan yang saling berkesinambungan bagi satu dan lainnya.

Salah satu bagian yang paling menarik dari Aula Barat ini adalah atapnya. Atap bangunan sekilas menyerupai atap bangunan Batak, tetapi di sisi lain juga mirip dengan atap Sunda, bahkan ada yang berpendapat bahwa atap dari Aula Barat tersebut mengadopsi desain atap bergonjong dari Padang, Sumatera Barat. Terlepas dari perbedaan pendapat tersebut, apa yang ingin dicapai oleh Pont adalah atap tradisional Indonesia dan usaha (mungkin juga statement) untuk memasukan pengaruh lokal kedalam modernitas bangunan yang diintepretasikan sedemikian rupa–tidak masalah atap tradisional mana yang coba ditirunya.

Selain itu, Pont juga memasukkan beberapa unsur candi yang tampak pada pengolahan tangga. Ia juga banyak bereksplorasi dengan bahan-bahan lokal sekitar dan teknik ekspos, seperti misalnya pada kolom untuk menekankan tampak tradisionalnya sekaligus teknik baru yang modern.

Bila dilihat dengan seksama, pada bagian jendela kita akan menemukan pengaruh arsitektur modern Eropa yang banyak bermain dengan ornamen kaca warna-warni yang cukup dekoratif. Pencapaian tentang tujuan utama untuk perbaikan kesehatan dalam ruangan yang juga digabungkan dengan unsur atau semangat lokalitas, yaitu unsur iklim lokal (tropis basah), pun tidak ditinggalkan. Hal ini terlihat dari ventilasi-ventilasi dan sirkulasi udara yang didesain sedemikian rupa agar udara dapat mengalir dan melakukan pergantian dengan lancar serta atap miring dan adanya teritis yang memang cocok untuk iklim Indonesia yang bercurah hujan tinggi.

Pada bagian interior, akan kita dapati struktur-struktur kayu lengkung yang di tata dan diekspos secara apik serta memperlihatkan teknologi pembuatan yang modern dan inovatif.

Sistem konstruksi ini membawa sebuah paradigma konstruksi baru pada era itu. Pada gambar nampak jelas terlihat bagaimana bahan-bahan lokal yang diolah dengan teknologi dan teknik modern dapat menghasilkan suatu inovasi yang apik dan sinergis. Ekspos kayu dengan desain susunan ala arsitektur modern Eropa seakan memberikan wadah bagi akulturasi dua budaya tersebut.

Eksistensi Arsitektur  Indo-Eropa

Jika diperhatikan, karakteristik ataupun ciri dari bangunan Aula Barat dan gedung Sate  ini tampak memenuhi segala kriteria yang pernah dipaparkan oleh Schoemaker tentang arsitektur Indo-eropa, yaitu:

    •    Sosok bangunan umumnya simetris

    •    Memiliki ritme vertikal dan horizontal yang relatif sama kuat

 • Konstruksi bangunan disesuaikan dengan iklim tropis, terutama pada pengaturan ruang, masuk sinar matahari, dan perlindungan hujan

Selain itu, latar belakangnya juga menunjukkan arsitektur ini merupakan bagian dari arsitektur Indo-eropa. Kedua karya tersebut terbukti memiliki nilai estetika yang tinggi dan sejarah yang berarti, sehingga sudah seharusnya mendapat perhatian dan pemugaran. Dengan melakukan upaya tersebut, bukan berarti kita menjunjung tinggi peninggalan-peninggalan kolonial. Tapi karya tersebut merupakan bagian dari sejarah perjalanan Indonesia yang pernah berada dalam suatu keterkaitan yang erat dalam akulturasi budaya yang terlihat dari karya-karya bercorak eklektis antara budaya Eropa dan Nusantara.

***

Daftar Pustaka

Kunto, Haryoto. 1984. Wajah Bandung Tempo Doeloe. PT. Granesia: Bandung.

Suganda, Her. 2007. Jendela Bandung: Pengalaman Bersama Kompas. Kompas: Jakarta.

Hartono, Dibyo. 1997. Bandung: Data Bangunan Bersejarah Kota Bandung 2007. Bappeda Daerah Tingkat II Kota Madya Bandung.

Handinoto. 1998. Dimensi Arsitektur Vol.26-Desember 1998: Arsitektur Gaya “Indo Eropa” Th. 1920-an di Indonesia

Setia Budi, Bambang. 2002. Kompas: Minggu, 4 Agustus 2002: Schoemaker dan Penanda Kota Bandung

http://com.bandungadvertiser.com/index.php?option=com_content&view=article&id=466:gedung-sate&catid=124:bandung-heritage&Itemid=543


[1] Sebutan bagi orang Belanda yang menetap di Indonesia di masa penjajahan

[2] Haagasche Courant, Senin 1 Agustus  1983

[3] Wajah Bandoeng Tempo Doeloe

  1. san, ulas tentang gaya rumah indo-eropa dunk.. jangan gedung-gendungnya aja
    saya selalu seneng dengan rumah gaya-gaya belanda…
    keknya selalu punya gaya yang sama
    (saya pernah tinggal di rumah bekas belanda di dua kota yang berbeda, dan merasajan kemiripannya, hehe)

  2. hmm, oke.. tunggu ya🙂

    yang taufiq tangkap, kemiripan itu lebih ditimbulkan oleh apa?

  3. isan, judulnya provokatif banget. bikin penasaran. tp pas diubek2 tulisannya, korelasi antara judul dan kritik di dalam tulisan, kok gak nemu ya. hehe. nice piece, tho.

  4. hehe.. iya.. maksud judul itu mau menegaskan kembali bahwa sebenernya bandung itu punya warna arsitektur sendiri yang berbeda dari arsitektur eropa, meskipun sangat dipengaruhi oleh gaya eropa. Nah, genre yang dimaksud adalah style eklektik “indoeropa” yang aku bahas di paper ini dalam uraian contoh kasus bangunan indoeropa semisal gedung sate.. Makanya aku berikan judul “Ini Bandung, bukan Parijs bung!”.. begitu opi😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: