Buah Pikiran Para Perancang Masa Depan

Estetika dan Komersialisme

In Andreas Cornelius Marbun on September 3, 2011 at 9:49 am

Andreas Cornelius Marbun

Estetika, Persepsi, dan Subjektivitas

Estetika adalah nafas bagi sebuah karya seni. Emosi, perasaan, dan pikiran manusia dapat termanifestasi ke berbagai bentuk karya seni; baik lukisan, musik, sastra, dan bahkan arsitektur. Namun dari berbagai macam bentuk manifestasi yang bisa terjadi tersebut, estetika berdiri sebagai benang merahnya.

Hebert Read (1931) dalam essainya yang berjudul “A Definition of Art” mengatakan bahwa seni, pada umumnya, didefinisikan sebagai sebuah usaha untuk menciptakan bentuk-bentuk yang memberi kesenangan atau kepuasan. Bentuk-bentuk tersebut memberi kepuasan terhadap kepekaan estetika. Kepekaan estetika menjadi terpuaskan ketika kita mampu mengapresiasi kesatuan atau harmoni yang muncul dalam hubungan-hubungan yang terbentuk dalam persepsi. Jadi, singkatnya, estetika atau keindahan adalah sebuah kesatuan hubungan-hubungan yang dibentuk oleh persepsi-indera (sense-perceptions).

Menurut Hebert Read, seluruh teori umum mengenai seni harus berawal dari anggapan bahwa manusia memberi respon terhadap bentuk, permukaan, dan massa benda yang dapat teralami. Aturan dan tatanan yang sedemikian rupa pada proporsi bentuk, permukaan, dan massa sebuah benda akan menghasilkan sensasi kepuasaan, sementara tidak adanya aturan dan tatanan tersebut membuat suatu objek menjadi tidak menonjol atau bahkan berujung kepada ketidaknyamanan.

Ada dua tahap yang terjadi saat manusia mepersepsikan keindahan suatu objek: pertama, adalah persepsi terhadap kualitas material—warna, bunyi, gestur, dan segala macam reaksi fisik kompleks lainnya; kedua, adanya penataan persepsi-persepsi tersebut menjadi bentukan dan pola-pola yang memberikan kepuasan.

Nilai-nilai estetis/keindahan adalah sesuatu yang amat subjektif dan tidak pernah tetap. Nilai-nilai ini akan terus berubah dan berganti sebagai respon terhadap semangat zaman. Sesuatu yang dianggap indah pada suatu generasi, belum tentu dianggap indah oleh generasi lainnya. Sifat subjektif ini disebabkan oleh adanya cara pandang yang berbeda-beda dari tiap individu dalam mempersepsi keindahan, terkadang bisa juga tergantung oleh kepentingan tertentu–mungkin kepentingan budaya atau kepentingan politis. Subjektivitas dan sifatnya yang selalu berubah ini yang menyebabkan lahirnya berbagai macam teori-teori estetika, seperti antara lain: Teori Estetika Formal Plato, Teori Ekspresi, Teori Psikologis, Teori Penataan Klasik, Teori Renaissance, Teori Zen, dan lain sebagainya. Dalam tulisan ini saya akan menitikberatkan pembahasan kepada dua teori, yaitu Teori Estetika Formal Plato dan Teori Ekspresi.

Teori Estetika Formal Plato mencoba menjelaskan kualitas-kualitas yang dimiliki oleh objek-objek estetis. Plato membagi objek estetis menjadi dua kategori: objek estetis sederhana (misalnya yang menggunakan warna-warna dasar dan warna-warna tunggal) dan objek estetis kompleks. Kesamaan (similarity) yang dimiliki oleh objek-objek estetis sederhana adalah kesatuan (unity), dan kesamaan yang dimiliki oleh objek-objek estetis kompleks adalah ukuran dan proporsi antar bagian, yang mana juga membentuk kesatuan.

Teori Estetika Plato diperkuat oleh St. Thomas Aquinas yang menyatakan tiga kondisi keindahan: 1) Kesempurnaan atau ketidakcacatan (perfection or unimpairedness), 2) Proporsi atau harmoni (proportion or harmony), dan 3) Keterbacaan atau kejelasan (brightness or clarity).

Berbeda dengan teori yang diusung Plato, menurut Teori Ekspresi estetika tidak dinilai berdasarkan bentuk fisik luarnya saja tapi juga berdasarkan maksud yang melatarbelakangi karya tersebut, atau ekspresinya. Dalam Teori Ekspresi, faktor utama yang menentukan keindahan objek tersebut adalah fungsi objek itu sendiri. Dengan kata lain, sebuah objek dapat dikatakan indah atau memiliki nilai estetis apabila objek tersebut dapat berfungsi dengan baik (fungsional).

Estetika di Masa Kini: Peleburan Estetika Ke Dalam Aspek Komersial

Estetika sebagai unsur seni, pada keberjalanannya saat ini tidak hanya berdiam diri secara eksklusif pada karya-karya seni tertentu saja. Estetika di masa kini, berbeda dengan yang terjadi di masa renaissance misalnya, telah menyebrangi batas-batas pemisah antara karya seni dan keseharian hidup. Terlebih di era konsumsi seperti sekarang, dimana perputaran ekonomi menjadi roda utama pergerakan sebuah kota, bahkan negara, dan bahkan dunia. Estetika dan prinsip-prinsip keindahan menjadi sebuah komoditas penting yang terintegrasi dalam strategi pemasaran produk dan jasa.

Dari sisi arsitektural, hal ini sudah pernah disinggung oleh Vitruvius dalam bukunya “The Ten Book of Architecture”, bahwa arsitektur harus mampu menunjukkan tiga kualitas, yaitu kegunaan-kekokohan-keindahan. Sisi estetika menjadi penting bagi arsitektur karena keindahan (dalam hal ini keindahan visual) adalah faktor pertama yang dipersepsi oleh individu, yang pada akhirnya menjadi penentu awal apakah sebuah bangunan mampu mengundang pengunjung atau tidak.

Contoh kasus mengenai peranan penting estetika visual dalam arsitektur dapat dengan mudah kita amati di Jalan Ir. H. Djuanda. Penataan ruang kawasan Jalan Ir. H. Djuanda (atau biasa disebut Dago) pada awalnya dirancang dengan nyaris sempurna sebagai kawasan hunian bervilla. Bangunan-bangunan di kawasan ini dirancang oleh arsitek-arsitek terkenal pada masanya, seperti Mclaine Pont, Schoemaker bersaudara, Gheijsels, dan Albers dengan karakteristik villa yang mengacu kepada arsitektur modern Eropa tahun 1920 dan 1930an. Seiring dengan perkembangan jaman, pada era 1990an hingga saat ini, kawasan ini berubah pesat menjadi kawasan komersial. Maraknya tren factory outlet secara perlahan tapi pasti membuat kawasan Dago menjadi sasaran para investor untuk mendirikan factory outlet, distro, restoran, hotel, dan lainnya. (http://jongarsitek.com/2009/12/08/weg-sekilas-tentang-kawasan-dago/)

Berdasarkan perubahan gaya hidup dan kebutuhan fungsi-fungsi baru pada bangunan, banyak bangunan di kawasan Dago yang menata ulang kembali dirinya. Perkembangan fungsi-fungsi komersial yang makin marak di kawasan ini menuntut bentukan-bentukan serta wajah bangunan yang menarik secara estetis dan dapat mengundang minat pengunjung.

Studi Kasus: Walini Tea Gallery & Opulence Lounge

Galeri Teh Walini

Simplisitas, itu yang pertama kali terlintas ketika saya melihat bangunan “Walini Tea Gallery”. Bangunan ini terdiri dari dua tingkat, lantai pertama mewadahi fungsi café dan restoran sedangkan lantai kedua mewadahi café serta toko batik dan kerajinan tangan. Massa bangunan dibentuk oleh geometri sederhana yang jelas. Pada wajah bangunan terdapat massa kantilever selebar kurang lebih satu setengah meter yang juga dibentuk oleh geometri sederhana. Ada kesan semi-transparan yang timbul antara ruang luar dengan ruang dalam bangunan. Tidak ada dinding masif yang membatasi keduanya, terbuka begitu saja. Fasad hanya diberi aling-aling dari repetisi tulang-tulang baja berwarna gelap. Bentuk atapnya pun dibuat sederhana sebagai respon terhadap bentuk denahnya yang sederhana dan cenderung pragmatis.

Bangunan yang diresmikan tanggal 3 Agustus 2010 lalu ini, merupakan bentukan nyata tuntutan dan potensi komersial kawasan Dago. Sebelumnya, gerai-gerai teh Walini tersebar di beberapa lokasi dan menumpang di beberapa factory outlet yang berbeda. “Walini Tea Gallery” menjadi semacam pusat komersial teh Walini di kawasan Bandung, Jawa Barat. Selain berfungsi sebagai gerai teh, bangunan ini juga berfungsi sebagai café dan restoran, toko batik dan kerajinan tangan, serta pusat informasi tentang jenis-jenis teh produksi PTPN VIII dan reservasi untuk argowisata PTPN VIII.

Suasana cafe di lantai 1

Begitu memasuki bangunan, pengunjung langsung menemui ruangan café yang sekaligus merangkap sebagai galeri pamer. Pada dua sisi ruangan nampak rak-rak yang digantung. Rak-rak tersebut menampung puluhan botol identik berisi serbuk-serbuk teh yang disusun secara linear. Botol-botol tersebut selain berfungsi sebagai benda yang dipamerkan juga berfungsi sebagai elemen dekorasi yang menambah nilai keindahan. Susunan berulang botol-botol tersebut membentuk datum-datum yang saling melengkapi.

Pengaturan display produk yang membentuk pola-pola menarik

Bangku dan meja yang tersedia memiliki ketinggian yang tidak biasa, cenderung pendek. Dengan posisi duduk yang rendah seperti itu, pengunjung dibuat merasakan kesan intim dan hangat. Kesan ini diperkuat dengan penggunaan material papan-papan kayu pada plafonnya.

Suasana cafe di lantai 1

Suasana cafe di lantai 2

Secara keseluruhan, estetika pada bangunan ini dibentuk oleh unsur-unsur garis dan pengulangan elemen-elemen pada dan dalam bangunan. Keterbacaan pola sederhana pada arsitektur “Walini Tea Gallery” membuat prinsip-prinsip keindahan yang terkandung dalam bangunan ini dapat berkomunikasi baik dengan siapapun pengunjungnya.

Unsur-unsur repetisi elemen garis juga dapat kita temui pada tampak bangunan Opulence Lounge yang sama-sama terletak di Jalan Dago.

Opulence Lounge

Opulence Lounge adalah sebuah restoran dan bar yang menyajikan menu makanan Barat dan Timur. Bar ini biasanya digunakan untuk konferensi pers, pesta privat, pertunjukan musik, atau sekedar tempat untuk bersosialisasi. Menurut “The Merriam-Webster Dictionary”, opulence memiliki arti: 1. WEALTH 2. ABUNDANCE. Dalam padanan bahasa Indonesia berarti kemakmuran dan kekayaan. Citra kekayaan dan kemakmuran ini ditonjolkan lewat bentukan dan wajah bangunan yang terlihat simple dan elegan.

Pemilihan material kaca yang dominan serta batang-batang baja yang disusun repetitif dan penggunaan kolom baja yang kurus memberikan kesan ringan kepada bangunan ini. Adanya setback dari jalan juga memberi ruang bagi para pengunjung untuk dapat mengapresiasi arsitektur Opulence Lounge. Tampak bangunan ini secara sepintas mengingatkan saya kepada Fansworth House karya Mies van der Rohe. Geometri bangunannya yang sederhana, kolom-kolomnya yang kurus, penggunaan material kaca yang dominan pada wajahnya, serta pemilihan cat putih membuat siapapun yang memiliki pengetahuan arsitektur dapat segera mengasosiasikannya dengan Fansworth House. Sederhana, bersih, dan elegan.

Opulence Lounge

Agak berbeda dengan “Walini Tea gallery” yang tidak menggunakan dinding masif, Opulence Lounge sepenuhnya tertutup oleh selubung bangunan. Walau demikian, kesan transparan yang dihasilkan terasa lebih kuat bila dibandingkan dengan “Walini Tea Gallery”, hal ini disebabkan oleh pengaplikasian dinding kaca pada sebagian besar tubuh bangunan.

Lantai kedua Opulence Lounge ditutupi oleh second-skin berupa batang-batang baja yang dicat putih, senada dengan warna dasar bangunan. Sementara, pintu masuk diperkuat dengan adanya teras yang menjorok keluar, serta penggunaan material batu tempel sebagai aksen pada latarnya.

 ***

Dari kedua bangunan ini dapat kita rasakan, entah sengaja atau tidak, kuatnya penerapan Teori Estetika Formal Plato dan prinsip keindahan menurut St. Thomas Aquinas. Keindahan diperoleh dari kesederhanaan bentuk dan keterbacaan nilai estetisnya.

Namun kedua bangunan ini memiliki perbedaan yang cukup mendasar jika dilihat melalui kacamata Teori Ekspresi. Menurut saya, arsitektur “Walini Tea Gallery” lebih sukses dibandingkan dengan Opulence Lounge, sebab “Walini Tea Gallery” dapat mengakomodasi berbagai macam kegiatan yang berbeda dengan solusi desain yang sederhana. Ruang-ruang dibuat terbuka dan saling terhubung sehingga, pada pengoperasiannya, aliran kegiatan dan udara dapat mengalir dengan mudah dan efektif serta ramah lingkungan. Sementara, pada Opulence Lounge, bangunan dibuat tertutup sehingga memerlukan penghawaan buatan, yang untuk kondisi Bandung yang relatif bersahabat, adalah suatu pemborosan.

Mungkin terlalu gegabah bila mengatakan kesuksesan sebuah arsitektur semata-mata ditentukan oleh fitur-fitur fisiknya. Ada bermacam faktor lain yang juga mempengaruhi mampu tidaknya suatu bangunan komersial untuk menghidupi dirinya, semisal: lokasi lahan yang tepat, strategi pemasaran yang cerdas, manajemen operasi yang rapi, dan lain sebagainya. Namun pada akhirnya, dari pengamatan yang telah dilakukan ini, dapat disimpulkan bahwa tidak dapat dipungkiri lagi estetika di masa kini mulai, dan makin melebur ke dalam komoditas keseharian, terutama komoditas komersial.

***

DAFTAR PUSTAKA

Dickie, George. Aesthetics: An Introduction. 1971. The Bobbs-Merrill Company, Inc.

http://jongarsitek.com/2009/12/08/weg-sekilas-tentang-kawasan-dago/

http://walini.wordpress.com/

Jacobus, Lee A. Aesthetics and the Arts. 1968. McGraw-Hill, Inc.

Merriam-Webster, Inc. The Merriam-Webster Dictionary: International Edition. 2004. Merriam-Webster, Inc. Springfield, Massachusetts.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: