Buah Pikiran Para Perancang Masa Depan

Sense of Place: Masjid Istiqlal dan Masjid Al Irsyad

In Binny Aryuniputri on August 20, 2011 at 8:24 am

Binny Aryuniputri

Masjid merupakan tempat beribadah umat muslim, tempat untuk bersujud dan bersembahyang. Masjid itu sendiri berasal dari kata “sajada” yang berarti bersujud (Sidi Gazalba, Masjid Pusat Ibadat dan Kebudayaan Islam, 1962). Secara harafiah, sujud merupakan salah satu gerakan shalat dimana kita meletakkan kening pada lantai. Secara arti yang lebih luas, sujud mengandung makna hormat kepada suatu hal yang lebih besar, sesuatu yang agung. Dalam hal ini, sujud dapat diartikan menyembah dan beribadah kepada Tuhan. Pada dasarnya, bersujud dan beribadah dapat dilakukan dimana saja tanpa keterikatan waktu tempat, tidak harus dilakukan di Masjid. Awal mula berdirinya Masjid adalah sebagai salah satu dari tujuh strategi Nabi dalam membangun masyarakat yang Madani di Madinah. Sehingga, fungsi Masjid selain sebagai tempat beribadah bersama juga memiliki fungsi lain seperti tempat berkumpul dan mengadakan musyawarah atau pertemuan antar umat Islam.

Eksterior Masjid Istiqlal

Masjid Istiqlal yang terletak di Jakarta Pusat merupakan Masjid yang terbesar di Asia Tenggara, dirancang oleh Arsitek Frederich Silaban melalui sebuah kompetisi desain dan didirikan pada tahun 1954. Massa dari bangunan ini berbentuk persegi dan memiliki atap berupa dome besar yang ditopang oleh 12 kolom yang diambil dari tanggal lahir Nabi Muhammad (Saut Silaban, 2005). Orientasi massa utama dari bangunan ini menghadap ke arah kiblat yaitu Barat Daya dan dikelilingi oleh selasar yang menghubungkannya secara visual dengan minaret(menara). Fasade dari Masjid ini memiliki elemen vertikal sebagai elemen fasade utama yang mendominasi tampak bangunan keseluruhan, namun dikombinasikan pula oleh elemen horizontal dan persegi pada beberapa bagian bangunan.

Innercourt Masjid Istiqlal
Innercourt

Masjid Istiqlal memiliki ruang transisi yang cukup banyak di dalamnya, ruang-ruang yang merupakan median antara ruang luar dan ruang ibadah utama. Pada bagian dalam Masjid ini terdapat dua innercourt yang dibatasi oleh selasar besar pada bagian tengahnya, dimana pada selasar ini terlihat pengunjung yang berkumpul dan tidak melakukan aktivitas khusus, namun hanya duduk-duduk sembari menunggu waktu shalat. Kedua innercourt, satu pada sisi kanan dari arah pintu masuk dan satu pada sisi kiri, memiliki efek ruang yang berbeda. Innercourt pada sisi kanan terasa lebih tertutup. Ruang luar ini terbentuk oleh empat bidang yang mengelilinginya berupa selasar pada dua sisi dan tembok Masjid pada dua sisi lainnya, di mana tembok Masjid pada ke dua sisi memiliki tinggi empat kali lipat tinggi kolom selasar. Perbedaan tinggi yang mencolok antara dua bidang yang saling berhadapan dengan jarak tidak lebih lebar dari bidang tembok Masjid inilah yang memberi efek tertutup pada innercourt tersebut. Sedangkan pada innercourt pada sisi kiri dari arah pintu masuk dibatasi oleh selasar pada keempat sisinya serta memiliki jarak yang cukup besar, sehingga innercourt ini lebih ramai, karena lebih terbuka dibandingkan dengan innercourt pada sisi kanan.

Pada umumnya, tempat ibadah seperti masjid dan gereja dirancang memiliki langit-langit dan pilar yang sangat tinggi. Bangunan yang memiliki proporsi jauh lebih besar dari proporsi badan manusia, hal ini menimbulkan stimulasi perasaan yang membuat manusia merasa sangat kecil. Perasaan inilah yang sengaja dihadirkan dan banyak dijumpai pada perancangan rumah ibadah, membuat manusia yang berada di dalamnya merasa kecil dan dihadapkan kepada sesuatu yang lebih besar di hadapannya. Hal ini dapat diartikan juga sebagai manusia yang kecil dihadapan Tuhan, yang bisa menajamkan kefokusan dalam beribadah. Prinsip proporsi ruang inilah yang diterapkan pada perancangan ruang Masjid Istiqlal, khususnya pada ruang shalat utama dengan tujuan memberikan pengalaman ruang yang bertemakan “kebesaran Tuhan”. Proporsi ketinggian yang dominan dapat dijumpai di banyak bagian dari bangunan ini, tidak hanya pada bagian dalam ruang shalat utama, yaitu mulai dari fasade bangunan, pintu, tangga, selasar, hingga kolom-kolom di dalamnya. Efek megah sudah dapat dijumpai setelah melalui pintu masuk, efek ini selain dibentuk oleh tingginya langit-langit, juga dibentuk oleh cahaya alami yang masuk karena sisi selatan bangunan yang terbuka. Penggunaan material marmer juga mendukung terbentuknya kesan yang megah pada ruangan Masjid ini.

Interior ruang utama Masjid Istiqlal

Pengolahan desain berupa penggunaan proporsi tinggi dan skala ruang yang besar sering dijumpai pada bangunan-bangunan Masjid lainnya, tidak hanya Masjid Istiqlal. Berbeda dengan Masjid Istiqlal yang sudah berusia lima dekade, Masjid Al-Irsyad yang merupakan masjid kontemporer dan belum genap setahun diolah dengan cara yang lain.

Masjid Al-Irsyad karya Arsitek Ridwan Kamil ini terletak di kawasan Kota Baru Parahyangan. Masjid yang tergolong baru ini memiliki bentuk berbeda dari bentuk masjid pada umumnya, yaitu tidak adanya kehadiran kubah yang sepertinya menjadi elemen pokok pada masjid. Massa bangunannya yang sederhana dan hanya berbentuk segi empat merujuk pada bentuk Ka’bah, dengan dinding berupa tumpukan batu yang membentuk tulisan kaligrafi. Pada interiornya, Masjid ini memiliki rona warna monokrom pada materialnya berupa dinding batu, dinding bercat putih, karpet berwarna abu-abu, serta dimonopoli oleh elemen batu. Pada sisi yang menghadap kiblat, tempat dimana mimbar untuk Imam berada, terdapat bukaan yang berbentuk mengerucut keluar seolah membingkai pemandangan hijau di luarnya dengan cara pandang perspektif. Elemen berupa kolam terletak pada ke tiga sisi masjid, menjadi elemen transisi antara dinding dan lantai. Ukuran kolam ini membesar pada sisi kiblat masjid, tidak lagi menjadi elemen transisi antara dinding dan lantai, namun menjadi mediator antara ruang dalam dan ruang luar, atau bisa diartikan sebagai mediator antara tempat bersujud dan alam. Pada sisi ini, terdapat sebuah elemen berupa bola tembaga yang terukir nama “Allah”, terletak pada bagian tengah kolam. Pada langit-langitnya terdapat 99 lampu persegi yang bertuliskan 99 nama Allah, pada siang hari terbentuk pola bayangan dan pada malam hari sinar dari lampu-lampu tersebut memancarkan cahaya bertuliskan 99 nama Allah tersebut pada lantai.

Interior masjid Al-Irsyad

Seperti hal nya Masjid Istiqlal, Arsitektur Masjid Al-Irsyad juga bertujuan menghadirkan perasaan yang sama ketika kita berada di dalamnya, yaitu rasa dekat dengan Tuhan dan kekhusyukan dalam beribadah. Walau pencapaiannya serupa, namun diolah dengan cara yang berbeda dan tidak menggunakan prinsip proporsi perbandingan tinggi ruangan, tidak juga menggunakan pilar-pilar yang tinggi untuk memberi kesan agung. Perpaduan antara alam yang dibingkai oleh dinding perspektif, kolam dan bola berukiran “Allah” sebagai mediatornya, dengan ruang dalam bangunan sebagai tempat bersujud memberi nilai lebih terhadap siapapun yang berada di dalamnya. Ketika berdiri dan menghadap ke pemandangan alam yang terbingkai, memberi efek berupa rasa dekat dengan Tuhan, karena alam merupakan wujud dari keberadaan Tuhan di bumi ini. Bingkai perspektif menuju ke luar yang terdapat pada sisi kiblat juga memberi efek menuju satu, dimana dalam sudut pandang religi, dapat diartikan sebagai menuju satu tujuan, yaitu Tuhan. Sehingga walaupun terdapat seribu orang di dalamnya, ketika mereka bersembahyang mereka memiliki kiblat yang sama.

Olahan desain dari Masjid Al-Irsyad menunjukkan kreativitas Arsitek dalam mengolah ruang dengan cara yang berbeda untuk approach yang serupa dalam keterikatan sebuah Masjid dengan fungsinya sebagai tempat untuk beribadah. Desain Masjid Al-Irsyad juga memiliki keterikatan dengan kondisi lahannya, peka terhadap potensi view alam dan mengolahnya secara maksimal, bahkan menjadi sudut paling penting dari olahan keseluruhan ruang Masjid tersebut, dimana hal itu tidak dapat diterapkan pada setiap lokasi, khususnya Masjid Istiqlal yang terletak di tengah kota. Itulah sebabnya penting bagi Masjid Istiqlal untuk memiliki ruang terbuka di dalamnya, menghadirkan oase yang terdapat di tengah kota besar.

Daftar Pustaka:

Gazalba, Sidi. Mesjid Pusat Ibadah dan Kebudayaan Islam. Jakarta: Pustaka Antara. 1997.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: