Buah Pikiran Para Perancang Masa Depan

Membaca dan Mentransformasikan Bentuk Pada Karya Slamet Wirasonjaya

In Aulia Dharma Putra on August 13, 2011 at 10:50 am

Aulia Dharma Putra

Dalam arsitektur sering kita lihat bangunan yang memiliki bentuk yang berbeda pada bangunan umumnya tak sedikit juga bangunan memiliki bentuk yang unik. Bentuk itu semua berasal dari bentuk awal yang sudah dirubah dan dimanipulasi menjadi bentuk yang baru atau berbeda dari bentuk sebelumnya. Transformasi bentuk atau perubahan bentuk bisa didapat melalui berbagai variasi seperti dengan perubahan dimensi bentuk, pengurangan beberapa bagian dari bentuk awal, dan penambahan beberapa bagian bentuk.

Arsitektur menjadi sebuah titik awal proses pembelajaran yang memberikan energi potensial luar biasa dalam memahami ruang dan bentuk dalam berbagai skala. Dalam memahami ruang dan bentuk bagi seorang arsitek memerlukan sebuah pengalaman yang tidak sedikit dan panjang. Hal ini di alami oleh seorang arsitek besar kita yaitu Bapak Slamet Wirasonjaya (SLW). SLW selalu membuat sketsa yang pada nantinya akan menjadi inspirasi bentuk pada karya arsitekturnya. Kebanyakan inspirasi bentuknya datang dari bentuk geometri dan golden section serta bagaimana beliau mampu merancang dengan kontekstual dengan lingkungan dan eksisting sekitarnya. Ruang dan bentuk rekaan setiap karyanya merupakan hasil perenungan dari kegemarannya membaca. Beliau juga mengakui bahwa dirinya tak pernah menemukan hal baru dan karya-karyanya terinspirasi dari karya yang telah ada sebelumnya.

Dalam penulisan ini saya berkesempatan mengulas dua karya maha besar beliau yang mengambil transformasi dari bentuk-bentuk bangunan dan langgam yang telah ada. Karya tersebut adalah Sasanan Budaya Ganesha dan Kantor Balaikota yang berada di Bandung. Kedua karya ini merupakan hasil dari transformasi yang terbentuk dari berbagai pengetahuan dan langgam dari apa yang telah beliau dapatkan. Bentuk-bentuk tercipta karena beliau mampu merasakan apa yang dibutuhkan untuk lahan dimana proyek tersebut berada.

***

Sasana Budaya Ganesha: Membuat gunung di dalam lembah

Gedung Sasana Budaya Ganesa ITB, Bandung merupakan eksplorasi bentuk bangunan yang berlokasi di suatu lahan yang unik yaitu di sebuah lembah yang dikelilingi jalan melingkar. Arsitektur Organik yang digagas oleh Wright menjadi sumber bentuk setengah kubah yang dikitari oleh relung-relung. Lingkungan yang didominasi oleh pepohonan yang menghijau ini tetap dipertahankan dan menjadi salah satu fasilitas publik warga kota khususnya berolahraga dan pentas kebudayaan dan kesenian.

Gedung Sabuga ini dulunya dirancang sebagai pusat penelitian dan ilmiah namun seiring keberjalanannya menjadi sebuah hall yang cukup besar yang berfungsi sebagai tempat pentas seni dan kebudayaan serta  penyelanggaraan seminar dan kuliah umum.

Gedung Sasana Budaya Ganesa yang berada di lahan lembah

Gedung Sasana Budaya Ganesa yang berada di lahan lembah

Bangunan yang berada di lahan berbentuk lembah ini apabila dilihat dari atas seolah-olah mengibaratkan sebuah gunung yang menguasai lembah. Hal ini memunculkan suatu istilah baru yaitu Arsitektur Lembah. Dengan memanfaatkan bentuk lahan ini membuat kesan bahwa bentuk yang dimunculkan dari bangunan ini adalah berbentuk gunung.  Dari bentuk yang diciptakan ini memunculkan sebuah analogi yaitu bahwa kota Bandung yang berada di tengah-tengah lembah dan dikelilingi oleh pegunungan mampu berkembang secara pesat dan besar.

Gaya bangunan diambil dari Art Deco , karena gaya ini dianggap dapat mengekspresikan garis-garis lurus dan lengkung secara murni dan jelas. Langgam Art Deco, dengan garis-garis yang mengelilingi fasade bangunan untuk mengikat bidang-bidang datar dan lengkung sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh. Sayang dalam pelaksanaanya muncul warna merah yang mengganggu kemurnian langgam, juga mengurangi harmoni dengan warna biru-atap dome, yang menurut sang Arsitek warna-warna merah itu seharusnya berwarna abu-abu tua yang kehijau-hijauan.

Konsep Art Deco tidak hanya terlihat dari bentuk lengkung atap

Konsep Art Deco tidak hanya terlihat dari bentuk lengkung atap

Pada bagian pintu masuk terdapat kanopi yang memiliki unsur lengkung dan pada bagian atasnya terdapat kaca patri yang diukir dengan bentuk lambang ganesha. Menurut Arsiteknya kaca tersebut akan diukir dengan lukisan yang mencerminkan art deco namun karena keterbatasan dana sehingga hal tersebut dibatalkan dan hanya diukir dengan lambang ganesha. Meskipun demikian hal tersebut tidak menghilangkan ciri khas art deco yang penuh dekoratif dan ornamental.

Pelaksanaan konsep proporsi atap candi Borobudur

Pelaksanaan konsep proporsi atap candi Borobudur

Berada di lahan yang berbentuk lembah, bagian fasade utama yang paling terlihat adalah atapnya. Sehingga menurut SLW dengan bentuk atap yang tradisional Indonesia tidak bisa menjadi rujukan yang paling diandalkan dalam eksplorasi fasade atapnya. Bisa kita pahami seandainya bangunan seluas itu ditutupi oleh atap tradisional Indonesia, sepertinya kita hanya bisa menikmati atapnya saja tanpa bisa menikmati wajah bangunan secara keseluruhan. Oleh karena itu lah pilihannya jatuh pada atap dengan bentuk lengkung.

Akhirnya sang arsitek menetapkan Candi Borobudur untuk dikaji sebagai rujukan konsep bentuk perancangannya. Hasilnya proporsi, ketinggian, lebar, derajat kemiringan/kelengkungan atap dome gedung Sabuga merupakan proporsi dan bentuk Candi Borobudur. Hal ini dapat kita lihat di pada bagian tampak bangunan yang berada di daerah Cikapundung.

***

Balai Kota Bandung: Gubahan Bentuk dengan respon yang kontekstual

Kompleks Balai Kota Bandung ini merupakan salah satu contoh desain yang menerapkan konsep kontekstual harmoni antara bangunan baru dan bangunan lama. Gubahan ruang dan bentuknya mencoba mersepon bangunan eksisting yang bergaya Art Deco versi Frank Lloyd Wright. Sama halnya dengan Gedung Sabuga, bangunan ini menerapkan dan mentransformasikan bentuk Art Deco terhadap bentuk modern yang lebih simpel namun tidak menghilangkan sifat Art Deco yang dekoratif dan ornamental.

Bangunan ini memiliki 3 massa utama, yaitu pada bagian tengah menjadi pusat atau kantor balaikota dan diapit oleh dua bangunan yang simetris dan memiliki bentuk yang sama.

“Aku cinta sejarah. Dalam sejarahlah terjadi proses paparan pengalaman, keberlangsungan, perjalanan waktu dengan kebenaran yang terbatas. Kita belajar dari sejarah bahwa arsitektur yang kurang memperhatikan manusia akan merosot. Sejarah mengisahkan keindahan. Itulah nilai yang digemari, diminati dan dirasakan oleh banyak orang”.  (SLW)

Kantor Balaikota yang terletak di jalan Merdeka

Kantor Balaikota yang terletak di jalan Merdeka

Bandung identik dengan banyaknya bangunan yang memiliki ciri khas Arsitektur Kolonial dan Art Deco. Begitu banyaknya peninggalan bangunan yang memiliki arti penting bagi sejarah kota Bandung dan memberikan kontribusi terhadap wajah kota Bandung. Dalam hal ini SLW menerapkan konsep kontekstualisme dalam mengambil dan mentransformasikan bentuk dari langgam arsitektur kolonial atau art deco.

Dalam sebuah transformasi bukanlah dalam artian menjiplak karya orang lain namun memberikan sentuhan baru terhadap bentuk bangunan lama dan menerapkannya terhadap bangunan yang dirancang. Dalam hal ini kantor balaikota ditransformasikan dari bentuk gedung sate serta pada bagian kanan dan kirinya di transformasikan dari bentuk art deco namun lebih simpel.

Bentuk bangunan gedung sate bertransformasi ke dalam bangunan balaikota

Pada gambar diatas dapat dilihat bahwa SLW berusaha menerapkan bentuk bangunan gedung sate pada kantor balaikota. Hal ini dapat dilihat dari bagian atapnya yang menerapkan prinsip atap pada arsitektur tradisional Sunda.  Meskipun pada bagian atap balaikota tidak bertingkat namun ragam bentuknya memiliki kesamaan dan kemiripan. Hal lainnya yang dapat dilihat yaitu dari bentuk tusukan sate yang terdapat pada bagian atap. Bentuk-bentuk yang ditransformasikan ini memberikan kesan bahwa dalam sebuah konsep perancangan tidak terlepas dari sejarah sebuah kota. Hal ini ditunjukkan oleh sang arsitek bahwa gedung sate yang memiliki nilai historis yang sangat tinggi dan berfungsi sebagai bangunan pemerintahan dapat di implementasikan ke dalam suatu karya baru dan dikemas dengan bentuk yang lebih sederhana.

Unsur Art Deco dapat terlihat dari ornament-ornamen yang dibentuk

Kantor Balaikota yang terletak di jalan Merdeka

Dalam rancangan SLW ini, arsitektur Art Deco menjadi tolak ukur dalam membuat sebuah perancangan. Terdapat ornamen-ornamen bersifat dekoratif yang menjadikan ciri khas dalam Art Deco. Pada bagian samping dapat dilihat bahwa tipe jendela yang digunakan pada bangunan ini memiliki kemiripan dengan bangunan gedung Sabuga. Hal ini menjadi ciri khas dalam Art Deco yaitu bukaan kecil yang memanjang. Bagian jendela atau bukaan ini menurut sang Arsitek merupakan transformasi dari bentuk daun-daun yang disinari oleh matahari.

Pada bagian kolom memiliki proporsi dan ketinggian yang sesuai dengan golden section namun, pada keberjalanan dalam tahap pembangunan, terjadi kesalahan komunikasi sehingga golden section yang telah direncanakan oleh arsiteknya tidak berjalan dengan baik. Namun bentuk bangunan ini juga tidak terlepas dari pengaruh kondisi eksisting sekitarnya, seperti Bank BI yang memiliki ciri khas arsitektur Art Deco yang sangat kental.

“Dunia bertransformasi dari satu bentuk ke bentuk lainnya dan dari satu petualangan ke petualangan lainnya. Sedangkan desain seharusnya mampu mentransformasikan diri secara luar biasa dari originalnya hingga ke futuristic namun sekaligus purba” (SLW)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: