Buah Pikiran Para Perancang Masa Depan

Galeri: Sebuah Ruang yang Dibatasi

In Rofianisa Nurdin on August 13, 2011 at 10:51 am

Rofianisa Nurdin

Kata mereka, seni tak berbatas. Biarkan imajinasi meruang menjadi sebuah karya yang berujung kepuasan batin, bukan sekedar sanjungan duniawi yang kadang tak sejalan dengan esensi seni itu sendiri.

Maka para arsitek merancang sebuah ruang galeri seni dengan dasar pewadahan seni sebagai ilmu abstrak diluar logika. Seni arsitektur milik arsitek sendiri tidak boleh berbenturan dengan seni empunya karya. Disitu arsitek ditantang untuk mencipta ruang yang mampu memberi jalan tengah. Selain itu, ruang galeri haruslah membuat karya seni menjadi primadona di dalamnya, menarik antusiasme penikmat seni untuk mengikuti alur galeri sampai seluruh ruang terjamahi. Sehingga isu sequence otomatis menjadi salah satu poin penting dalam perancangan tipologi bangunan ini.

Tapi apakah esensi sebuah ruang jika benda di dalamnya hanya menatap mati, menunggu dihampiri pengaku pecinta seni yang tak lagi mengerti? Galeri seni tak ubahnya sebuah museum, menjadi tempat berlabuh barang-barang tua yang tak perlu, seakan mati segan hidup tak mau. Pengunjungnya lama kelamaan sepi, hilang karena bosan. Ruang galeri menjadi mati; tanpa diskusi, pembelajaran, pertukaran informasi antar seniman, maupun triangulasi pengunjung awam yang tak sengaja datang untuk sekedar memuja karya seorang kawan.

Maka beberapa tahun belakangan ini galeri bukan hanya dijadikan sebagai ruang pamer karya seni, namun juga diberi tambahan nilai positif sebagai ruang publik yang kerap mewadahi kegiatan masyarakat yang berhubungan dengan seni dan budaya. Berbagai kegiatan komunitas maupun organisasi diselenggarakan di ruang-ruang yang ada atas kerjasama dengan pengelola. Keuntungan kedua belah pihak tercapai: pihak galeri mendapat publikasi dan pengunjung untuk menghidupkan galeri, sedangkan pihak komunitas mendapat wadah untuk berkreasi. Bandung sebagai kota kreatif memiliki beberapa contoh galeri yang mewadahi kegiatan seperti ini.

Sebuah galeri di kawasan perumahan elit Setra Duta salah satunya. Nu Art Sculpture Park yang berdiri di atas lahan seluas 3 ha sejak tahun 2000 dirancang untuk memamerkan karya pematung Nyoman Nuarta sejak awal karir hingga karyanya yang terakhir. Taman ini didesain untuk dinikmati para pecinta seni dan desain, dan terbuka bagi para seniman muda yang ingin memamerkan karyanya. Lalu sebagai focal point terdapat bangunan Nu Art Gallery yang mewadahi karya-karya Nyoman Nuarta di lantai satu, dan disewakan untuk seniman lain di lantai dua.

Gerbang masif tinggi besar bercat biru muda menyambut di ujung jalan kuldesak menuju kompleks bangunan Nu Art. Di baliknya langsung tampak bangunan Nu Art Gallery yang dibingkai pepohonan rindang, dan untuk menuju ke sana harus melalui lansekap yang diisi beberapa instalasi seni. Diantara tatanan rapi pepohonan, bangunan galeri yang menyatu dengan toko cinderamata di bagian depan ini berdiri dengan arsitektur yang tak biasa; layaknya skulptur raksasa yang memang dirancang sendiri oleh sang seniman utama: Nyoman Nuarta.

Pintu masuk galeri Nu Art

Sebuah analogi batu yang dipahat lalu dikombinasikan dengan material kaca, begitulah kiranya kesan pertama saya melihat bangunan ini. Geometri kotak mendominasi bentuk massa, dengan rotasi, coakan, penambahan yang terkesan “kacau” di sana-sini untuk menunjukkan hirarki pintu masuk galeri. Lalu begitu masuk ke dalamnya, kita akan menemukan deretan kolom yang dibuat seakan “retak-retak” dengan finishing plester yang tebal dan tekstur yang kasar. Warna krem mendominasi ruangan ini; baik pada kolom, tembok, langit-langit, maupun lantai marmer. Bagi saya ini membuat kesan tua, suram, dan angker; saya pun menangkap esensi chaos dalam desain bangunan ini. Apalagi ketika melihat susunan kolomya tidak sesuai dengan bentuk dasar bangunan, tetapi miring, melawan grid yang akan terbentuk sederhana jika mengikuti kaidah yang biasa. Ditambah adanya jembatan di lantai dua selebar kurang dari dua meter yang melintang melewati void; bangunan ini “resmi” menjadi salah satu penerapan kebebasan seni tanpa batas (order) yang tak semua orang mengerti maksudnya.

Mencoba mengikuti alur sirkulasi di antara instalasi-instalasi yang menyebar di ruangan, saya menyadari bahwa kesan suram juga muncul dari tinggi langit-langit yang tak seberapa (sekitar 2.75), ditambah pemasukan cahaya yang dibatasi untuk menjaga kualitas karya instalasi. Meskipun dari luar terlihat material kaca mendominasi bagian atas bangunan, ternyata sebagian besar hanya tempelan. Dinding interior kebanyakan masif, dengan beberapa aksen coakan dinding yang seperti diruntuhkan, menghasilkan bukaan cahaya kebiruan dari kaca film di bagian luar. Sedikit bergidik ngeri karena galeri sepi dan suasana yang dihasilkan kurang nyaman, saya beranjak pergi, mencari ketenangan dari lansekap luar yang asri.

Nu Art Gallery memang berbeda dengan pendahulunya, Selasar Sunaryo Art Space. Bangunan yang dibangun di atas lahan landai seluas 5000 m2 di perbukitan Dago yang cukup landai ini sejak diresmikan pada tahun 1998 telah menjadi pemain kunci pada bidang seni dan budaya Indonesia, atas kontribusinya sebagai sebuah institusi not-for-profit dalam menyokong perkembangan seni murni di Indonesia. Kata “selasar” merefleksikan konsep desainnya sendiri: sebagai ruang terbuka yang menyatukan ruang satu dengan yang lainnya, dan sebagai jembatan yang menghubungkan bangunan yang satu dengan yang lainnya. Konsep “selasar” juga merefleksikan tujuan tempat tersebut sebagai penghubung antara seni dengan penikmat dan untuk menyatukan beragam kebudayaan menjadi satu kesatuan.

Pintu masuk Galeri Utama Selasar Sunaryo

Kompleks bangunan ini didesain dengan bentuk geomerti sederhana yang mengambil esensi Jawa Barat dari bentuk sawah yang bertrap-trap, atap miring, bambu, rumah panggung, dan balong. Kesan modern ditampilkan pada material bangunan-bangunan di bagian depan: tembok beton, kaca tanpa kusen, railing baja, dan batu alam serta granit. Ciri khas arsiteknya sendiri, Baskoro Tedjo, terlihat dari penerapan kaidah wabi-sabi dalam ajaran Zen (Jepang), di mana karya arsitektur yang hadir sederhana, selaras dengan alam, dan keindahan bentuk-bentuk yang tidak sempurna, juga material yang memiliki karakteristik kusam yang semakin muncul setelah termakan waktu.

Penerapan prinsip Zen pada Taman Batu Selasar Sunaryo

Ada empat pintu di kompleks bangunan ini, namun pengunjung jarang ada yang kebingungan mencari pintu mana yang harus dimasuki, karena terdapat f­­­ocal point di bagian depannya. Setelah memasuki pelataran parkir, pengunjung dihadapkan pada tiga pilihan akses masuk: langsung menuju Ruang A (galeri utama), turun menuju Kopi Selasar (kafe), atau naik ke Bale Tonggoh (ruang pameran outdoor semi-permane­­n). ketiganya membawa kita pada pengalaman ruang yang berbeda, melalui labirin-labirin sempit selebar 80-100 cm yang membuat pengunjung terpacu untuk berjalan cepat menuju ruang terbuka, di mana noda/simpul sirkulasi hadir berupa kafe semi terbuka, ampiteater, teras, maupun taman yang seketika memberikan elemen kejutan di akhir perjalanan. Menurut arsiteknya sendiri, rancangan sirkulasi seperti ini dimaksudkan agar pengunjung tidak merasa bosan walaupun sudah berkali-kali ke sini, karena adanya labirin memberi kesan “tersesat” dengan pilihan cabang jalan yang selalu menghadirkan pilihan pengalaman ruang yang baru.

Suasana ruang luar dan ruang dalam di Selasar Sunaryo

Ruang dalamnya sendiri didesain mengikuti fungsinya sebagai wadah pamer karya. Seperti kebanyakan interior galeri lain, dinding ruang ini dicat putih polos tanpa detail mencolok yang akan mengambil “spotlight” karya seni. Pemasukan cahaya alami berada di tempat-tempat yang tidak akan menyorot karya secara langsung karena dapat merusak kualitas karya, maka dibuat void di tengah daerah sirkulasi untuk memberi akses masuk cahaya agar ruangan tidak terlalu gelap. Atau, dinding yang berupa kaca di bagian dalamnya diberi panel semi-permanen untuk menaruh instalasi seni.

Faktor lingkungan juga memberi pengaruh besar pada pengalaman ruang di Selasar Sunaryo ini. Selain lansekapnya yang asri dengan rerumputan, pagar-pagar bambu, pepohonan rindang rendah yang membentuk skala ruang; pemandangan khas Dago Pakar juga dibingkai apik untuk dinikmati dari susunan tempat duduk di ampiteater dan bar di Kopi Selasar. Pada beberapa sudut, keasrian alam menjadi satu-satunya pemandangan yang dapat dinikmati dari dalam ruangan, misalnya di Bamboo House yang diperuntukkan bagi seniman yang sedang mengadakan acara; memberi kedamaian kontemplatif yang mendukung kegiatan mereka berkarya.

Maka sembari menyesap kopi Selasar yang senikmat pemandangan sekitarnya saya menyimpulkan, bahwa seni itu bebas; interpretasinya bisa bermacam-macam. Sebagian menjadikan seni sebagai penyalur romantisme, kebudayaan, politik; sebagian lagi hanya ingin mengekspresikan diri sebagai pribadi untuk yang tak mau terkurung dalam aturan duniawi, maka imajinasi ia terbangkan tinggi-tinggi. Sehingga wadah yang tercipta pun akan berbeda, mengikuti inti utama dari sebuah karya.

Lalu ruang seni itu milik siapa?

 ***

Sumber dan Literatur:
Ching, Francis D.K. Arsitektur; Bentuk, Ruang, dan Tatanan.
http://www.nuarta.com/
http://www.selasarsunaryo.com/
http://pusatbahasa.depdiknas.go.id/kbbi/
wawancara dengan Ir. Baskoro Tedjo
  1. bahasanya opi ini penuh puitisasi ya, haha

    sepertinya blog ini butuh tambahan gambar deh di setiap artikel, apalagi yg ada deskripsi bangunan atau tempat, capek soalnya ngebayanginnya, apalagi yg blm prnah brkunjung langsung,,,

    masukan aja sih buat mimin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: